Cerpen Penting

Plis Deh Gue Cowo! - Episode Ternyata

4/16/2017 Abdul Jabbar Fathoni 0 Comments


PDGC
PDGC - Episode Ternyata
Cerita sebelumnya - Episode Ketahuan

Aduh!

Barbie ketahuan. Mampus gue! Penjelasan seperti apalagi yang akan gue dustakan. Nyokap pasti bakalan marah habis-habisan sama gue...

"Anu, mah... aku bisa jelaskan semua ini.", gue mencoba untuk menguatkan diri agar bisa ngejawab pertanyaan nyokap gue.

"Ya! Jelaskan nak, jelaskan!", Ucap mamah dengan keras dan terlihat mimik wajah yang teramat kecewa.

"Jadi gini mah, kemarin kan aku ba...", gue sudah berusaha menjawab, tapi...

"Cukup, nak! Mamah kecewa sama kamu...", ucap nyokap memotong omongan gue yang belum sempat diselesaikan dengan seksama dan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya

"Ampun mah! Ampun! Jangan coret aku dari kartu keluarga mah, aku mohon.", itu yang terbesit dibenak gue. Gue cuma bisa diam membisu, tanpa bisa mengeluarkan kata-kata yang pantas untuk menjawab pertanyaan nyokap.

"Mamah bener-bener kecewa sama kamu nak! Kenapa kamu nggak bilang kalau Barbie rusak.", nyokap gue melanjutkan ucapannya. Gue cuman bisa nunduk.

"Mamah tau, ini barang kesayangan kamu, nak. Barang yang selalu kamu jaga betul-betul dari sejak kamu kecil. Kalau kamu bilang barbie rusak, mamah sanggup kok belikan kamu barbie yang baru. Kamu nggak usah takut mamah bangkrut hanya karna membeli barbie baru.", ucap mamah yang sontak membuat gue kaget sekaligus kesel, ya kali kayagini ternyata responnya. Ya tuhan! Kembalikan akal sehat nyokap gue. Plis!!! Lebih mendingan dimarahin habis-habisan deh, daripada ngedenger ucapan nyokap gue kayagini. #hiks

"Nggak mah, nggak usah. Nggak perlu kok, suer.", jawab gue meyakinkan kalau pemikiran nyokap gue itu sudah melenceng.

"Nggak, nak. Mamah paham perasaan kamu gimana. Kamu tau kan dulu juga mamah sayang banget sama boneka ini. Tunggu ya, mamah pasti belikan kamu barbie yang lebih tahan lama.". ucap nyokap sembari pergi meninggalkan kamar gue.

"Ya tuhan. Cabut nyawaku!! Aku sudah nggak sanggup dengan kehidupan absurd ini!!!", doa gue dalam diam, meratapi kehidupan yang perih ini.

Kenapa lagi coba. Ya kali gue harus siap-siap punya boneka baru, padahal di kamar ini aja udah full colour banget sama boneka antah-berantah yang beragam macam. Memang sih boneka satu itu spesial... Tapi, bagi mamah, bagi gue? Ya kali...

Oh tuhan! Tolong sadarkan nyokap gue. Kembalikan ia kejalan yang benar...

"Ndet, det, det.", hape gue yang cetar pun kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Gue pun bergegas membuka pesan baru dari hp gue.

"Pasang ringtone Ku cinta dia sebagai nsp kamu. Buruan!!!"

"Yaelah, udah cepet-cepet dibuka juga, taunya cuman sms dari operator. Ah sudahlah, cukup sudah kurasakan perihnya kehidupan. Mendingan gue tidur aja deh.", gumam gue seorang diri di kamar, gue pun langsung membaringkan diri.

"Mawar! Jangan tidur dulu! Makan! Kalau nggak makan, ntar mati loh!", nyokap gue teriak dari lantai bawah.

Ya ampun, nyokap gue gini amat ya ke anak. "Iya mah. Bentar lagi kebawah."

Gue pun makan biar nggak mati. Trus gue langsung membaringkan diri kekasur dengan sukses. Dan... gue tertidur...

Ke esokan harinya...

Gue pun terbangun dengan sukses.

"Ndet, det, det.", hape gue kembali bergetar, kaya hati gue pas bareng doi. #ea

Gue pun langsung membuka pesannya.

"Asyik donkh lau lech nal sama qm. Kenalin yach, aq kiki."

Ya ampun, gue masih nggak nyangka. Hari gini masih ada aja kaum alayers dimuka bumi. Harus segera dimusnahkan! Yaudah lah, daripada hape gue sepi, trus ada sarang laba-laba. Mending gue balas aja dulu lah. Sekali-kali ngeladenin orang nggak apa kali ya.

"Oh, iya. Salam kenal kalau gitu. Gue Mawar. Lu dapet nomor gue dari mana?"

"Ndet, det, det.", getaran tanda pesan masuk ke hape gue untuk ke sekian kalinya.

"Ada dech. Rahasia. Qt ketemuan yuk di sekolah. Ada sesuatu yang aku mau omongin ke qm."

"Oh, emangnya lu sekolah dimana? Boleh lah, ayo aja."

"Aq satu sekolah kok sama qm. Lau gitu sampai ketemu di sekolah ya."

"Oke."

"Fix, nanti bakal ketemuan. Dari namanya sih kayanya cewe, trus gaya bahasa aq-qmnya jg kayanya sih cewe. Ah, nggak apa lah alay juga, siapa tau cantik.", pikir gue

Gue pun bergegas siap-siap, sarapan, dan berangkat ke sekolah. Tentunya kali ini dengan pinky, so diriku nggak perlu jalan kaki lagi.

Sesampainya di sekolah. Gue segera memarkirkan pinky.

Lalu...

Dari kejauhan gue ngelihat ada sesosok cowo yang perlahan mendekati.
"Hai"

Gue celingak-celinguk kekiri, kekanan, dan ke belakang. Menerka-nerka siapa kiranya yang dia sapa.

"Ke gue?", gue akhirnya pasrah mencari korban lain. Ternyata sapaannya untuk gue. Gue pun ngomong kayagitu untuk pengalihan aja.

"Iya."

"Maaf, siapa ya?", meskipun gue udah tau, dia memang siswa di sekolah gue jg dari seragamnya.

"Hayo, tebak. Aku siapa?"

Njir! Ni cowok pake tebak-tebakan segala lagi. Sok asik gitu. Bikin jijik aja.

"Nggak tau. Maaf siapa ya?", Jawab gue agak ketus.

"Ini aku, yang pas kamu awal masuk nanyain nomor itu."

"Anjir, ini toh orangnya yang kemarin nanyain nomor gue. Trus, ada perlu apa ya kira-kira sekarang dia ngedatengin gue. Gue punya firasat buruk nih.", ucap gue dalam hati.

"Kenalin...", dia mulai menyodorkan tangannya ke gue, memberi isyarat pengen kenalan sama gue. "Gue kiki. Yang sms kamu kemarin.", dia melanjutkan mengenalkan dirinya ke gue.

"Oh, oke deh.", gue pun menjabat tangannya. Gue langsung bergegas ninggalin dia. Daripada lama-lama disana bikin gue merinding sendiri.

Tapi tunggu, kok gue kayak kenal ya nama dia. Jangan-jangan...

Cerita selanjutnya - Episode Kembali

1mg1crt
Setoran Mingguan

You Might Also Like

0 comments:

Yang penting sopan. nggak ada spam dan link aktif.

Salam Penting,
@ajefathoni