Penting Banget

Tak Sengaja Datang Tak Sengaja Hilang

2/17/2015 Abdul Jabbar Fathoni 0 Comments


Tak Sengaja Ya
Nggak sengaja loh ya... Ingat!

Semua berawal dari ketidaksengajaan.

Ada sebuah teori yang aku dapatkan dari mulut kemulut bahwa

"Jodoh itu bisa berawal dari sebuah ketidaksengajaan"
Berawal dari aku yang memandang seorang cewe yang tak kukenal. Semua diawali saat rapat kegiatan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa yang aku ikuti.

Aku memandang dengan penuh penasaran terhadapnya. Bagiku, dia begitu mempesona... Senyum manisnya, bentuk wajah yang tak asing namun sebenarnya belum pernah aku temui.

Saking penasarannya, bahkan aku pun sampai bela-belain nyari-nyari kemungkinan nama dia dan dari kelas mana dia berasal. Walaupun saat itu aku nggak mendapatkan hasil apapun.

Awal aku tahu namanya adalah saat dia mulai ikut berpartisipasi untuk mengantarkan surat undangan kegiatan. Sebut saja Bintang.

Meskipun saat itu aku menyuguhkan muka cuek, yang sebenarnya hati bersorak sorai gembira. Karena aku telah menyelesaikan misi pertama secara tidak sengaja dan tanpa aku rencanakan, yaitu mengetahui namanya.

Misi kedua ku pun dimulai secara otomatis, yaitu dapetin nomor doi.

Hari-hari ku pun berlalu begitu saja, bisa dibilang flat, seperti ekspresiku.

Sampai suatu ketika, aku tau kalau dia ikut tes interview untuk pendidikan dan latihan organisasi himpunanku. Dan lebih nggak nyangkanya lagi dia di tes langsung olehku. Secara tersirat aku pun mengungkapkan kesenangan dan hatiku kembali bersorak sorai. "Yes, aku berhasil selangkah lebih dekat dengan doi."

Selama beberapa menit, aku dan Bintang asik berdebat karna beberapa pertanyaan yang aku tanyakan berkaitan dengan interview himpunan. Semua hal hampir aku tanyakan, dan tak sedikit yang keluar dari konteks pertanyaan, karena saking tertariknya aku dengan jawaban yang doi berikan saat menjawab pertanyaan-pertanyaan dariku.

Seusai interview pun aku mendapatkan kesimpulan, "Fix, dia asik. Aku punya kesempatan untuk PDKT."

Aku pun beralasan meminta kontaknya kepada salah satu teman sekelasnya yang aku kenal.

"De, kamu ada nomor atau kontak bm atau kontak linenya si Bintang nggak?"

"Ada kang, cie mau PDKT ya?"

"Ah, nggak kok. Pengen nanyain soal interview himpunan tadi.", alasan aja, padahal mah iya

"Sok kang, nih.", dia memberikan rekomendasi kontak dan nomor Bintang

"Makasih ya, de."

"Tapi kalau kata aku mah mending jangan kang. Dia udah pacaran selama 3 tahun loh."

*KREK*

Kali ini hatiku pun sontak pecah tercerai berai layaknya kaca yang pecah berkeping-keping.

Pupus sudah harapanku.

Dengan maksud tak ingin mengganggu. Maka, aku pun lebih memilih untuk mundur. Daripada harus merusak hubungan yang bahkan aku sendiri belum pernah merasakannya... Belum pernah merasakan mempertahankan suatu hubungan lebih dari setahun.

Setelah mengetahui kabar itu, aku pun sudah tak menaruh harapan apa-apa lagi.

Hingga...

Kami mulai dekat, pada saat doi sudah fix menjadi pengurus himpunan, sama sepertiku.

Sejak doi masuk himpunan, kami jadi lebih sering berkomunikasi, baik sekedar chatting, voice note, voice call, bahkan video call sekalipun.

Aku sudah tak terlalu mempermasalahkan ia menganggapku hanya sebagai singgahan sementara, ataupun memang untuk selamanya. Yang pasti, yang aku tahu, kami memiliki perasaan suka sama suka.

Kami pun bernostalgia, bercerita segala cerita tentang kami. Aku cerita tentang aku yang mulai tertarik dengan dia saat rapat kegiatan himpunan, dia cerita tentang dirinya yang mulai mengagumi ku saat ospek universitas. Bahkan...

Aku sampai tau kebenarannya yang sangat disayangkan telat aku ketahui.

Ternyata dia sedang putus dengan pacarnya ketika interview denganku.

What the sayang sekali pemirsa!

Itu yang aku katakan secara tersirat. Dan dia pun mengatakan, eh nggak, saat itu dia hanya mengetik "Ih, hidup ini nggak adil!"

Entah, saat itu aku harus senang karena dia ngetik kayagitu atau merasa menyesal karena taunya telat banget.

Semakin dekat dan semakin dekat lagi...

Itulah yang terjadi kepada kami setelah melewati berbagai cerita.

Mulai dari nonton bioskop bareng, jalan bareng, nganterin dia pulang ke rumah. Aku ngerasa nyaman banget dengan dia dan canda tawa yang aku rasakan saat bersamanya.

Aku merasa memiliki fans setia yang selalu memperhatikanku diam-diam.

Kami pernah chattingan saat pembukaan magang di kampusku.

"Seneng banget deh pagi-pagi udah bisa senyum karna ngeliat kamu.", ketikku

"Iya, sama. Aku merhatiin akang wae tau. Seneng ngeliat akang.", ketiknya yang membuatku bahagia

Aku masih merasakan nyaman dan bahagia seperti biasanya yang aku dapatkan darinya.

Hingga saat aku chat dia...

"Kangen banget deh sama kamu. Pengen jalan bareng lagi. Bahkan ngeliat kamu aja aku udah bahagia."

"Jangan deh kang. Nanti akang kecewa.", ketiknya yang mulai membuatku bertanya-tanya dan heran.

"Kenapa emang? Oh, karna si dia ya?", sebutanku untuk pacarnya yang tak mau ku ketik namanya

"Aku yakin akang akan dapetin yang lebih baik dari mantan-mantan akang kelak. Aku yakin itu. Bahagia terus ya!"
Waktu itu chat dari dia mengutarakan kalau dia mengiyakan, walaupun sebenarnya aku cuman sok tau seperti diriku biasanya. Aku pun tak masalah, mungkin dia hanya sedang gundah gulana.

Tapi... beberapa hari terakhir sebelum aku menulis tulisan ini. Aku mulai merasa ada sesuatu hal yang membuat perlakuan doi ke aku berubah. Seperti ada hal yang disembunyikan olehnya.

Aku pun curhat ke temen dekatku.

"Kayanya Bintang udah pasti banget deh sama pacarnya. Soalnya dia kayak beda gitu perlakuannya ke aku. Udah jarang juga chattingan."

"Loh, emangnya Bintang belum cerita ke kamu?"

"Cerita apaan?"

"Kemarin dia dilamar sama pacarnya. Dan dia bilang biarin dia aja yang ngejelasin ke kamu sendiri."

*KREK*

Untuk kedua kalinya aku merasakan kecewa dan perasaan seperti kaca yang pecah tercerai berai kemana-mana. Cuman bedanya, kali ini aku udah nggak ada harapan aja untuk mengembalikan pecahan itu menjadi kaca yang seutuhnya.

Betapa malangnya memang nasib yang kuterima.

Mantan yang kusayang sudah membicarakan masa depan, eh gebetan yang datang secara tak sengaja begitu saja menghilang.

Mungkin diriku belum berbenah diri atas dosa-dosaku yang telah lalu. Aku cuman bisa menyerahkan takdirku kepada Yang Maha Kuasa.

Aku pun tetap terus berpikiran positif, bahwa aku disuruh untuk menata masa depan terlebih dulu, agar kehidupanku bisa mapan demi jodohku yang lebih meyakinkan.

Dan sebenarnya pun, aku memang tidak terlalu berharap jauh. Karna aku pun belum bisa memberikan kepastian apa-apa, dibanding pacar mantan dan gebetanku yang lebih siap untuk kehidupan masa depan mereka bersama.

Aku hanya bisa mendoakan

"Semoga mereka yang pernah mengisi cerita hidupku, namun tak lagi menulis cerita bersamaku, bisa terus bahagia... walau tanpa adanya aku."

You Might Also Like

0 comments:

Yang penting sopan. nggak ada spam dan link aktif.

Salam Penting,
@ajefathoni