Penting Banget

Berontak!

8/22/2016 Abdul Jabbar Fathoni 2 Comments

Pemberontakan Pikiran dan Perasaan
Pemberontakan Pikiran dan Perasaan

Berontak!

Pemberontakan lah yang gue rasakan.

Bukan pemberontakan dari orang yang membenci gue, yang gue sayangi, ataupun orang tua gue.

Justru ini merupakan pemberontakan dari dalam diri gue. Pemberontakan antara pikiran dan perasaan. Hal ini yang membuat gue bingung. Membuat gue berulang kali berpikir dan terus berpikir. Apakah sudah benar yang gue lakuin, yang gue putuskan, dan banyak hal lain lah pokoknya. Semua itu berkecamuk dalam kepala gue.

Bukan suatu hal yang mudah bagi gue untuk merasakan pemberontakan ini. Bagi gue, bersama pemberontakan datang pula yang namanya penyesalan. Berulang kali gue ngerasain penyesalan yang teramat sangat. Ngebuat galau, pusing. Tak sedikit pula air mata yang keluar secara nggak sengaja dari mata. Karena hati gue bener-bener terluka.

Pemberontakan ini berawal dari perkataan yang sangat nggak gue inginkan untuk didenger. Memang bukan kata "Putus". Tapi, bagi gue ini lebih menyakitkan.

Semua berawal dari kata "Kita temenan aja ya."

Simpel emang untuk diucapkan. Tapi, ketika hal itu terucap dari seseorang yang teramat sangat kita sayangi. Kata itu menjadi sebuah guncangan. Sebuah gempa di hati. Betul lah yang dikatakan orang-orang, retak sudah hati bila ada luka yang tiba.

Ya, nggak salah kalau lu bilang ini curhatan. Ini memang sebuah curhatan bagi gue. Tapi, ini lah memang awal penyebab suatu pemberontakan yang gue rasakan di pikiran dan perasaan gue.

Panggil saja doi dengan Anya.

Dia mantan pacar gue. Sekarang.
Dulunya mah bukan. Dulunya dia pacar yang gue sayangi banget. Tapi pupus sudah harapan ketika kata tadi datang layaknya petir yang menyambar. Tak hanya target yang kena sambaran, tapi disekitarnya pun akan kena dampaknya. Paham? Kalau nggak, pahamin dulu deh. hehe

Gue kenal Anya saat awal gue datang ke Bandung. Awal-awal gue menyandang status sebagai mahasiswa. Dengan niat mau kopdar komunitas. Dan hanya doi yang memang bisa dan mau untuk kopdar bareng gue dan temen gue saat itu. Yang kopdarnya gue dan Anya, temen gue mah cuman bener-bener "Nemen"in. Nemenin loh ya, bukan nenenin. Awas salah baca.

FIX. Gue dan temen gue menunggu di pilar duduk yang ada di Alun-alun Bandung. Sambil gue hubungi Anya, gue terus celingak-celinguk, sambil berharap dia sudah datang. Karna yang namanya nunggu itu membosankan.

Akhirnya...

Belum, doi belum datang. Cuman di BBM dia udah chat "Udah sampai di lokasi nih", begitu kiranya, gue udah nggak begitu ingat gimana tepatnya dia nge-chat gue saat itu.

Alhasil, gue pun langsung celingak-celinguk sambil berdiri. Sempat gue meninggalkan temen gue. Dan ternyata, temen gue duluan yang mengenali dia. Oke, kita udah ketemu. Dan karna kita bertiga sama-sama lapar. Kita pun sukses memutuskan untuk makan dulu. Karna gue dan temen gue mahasiswa baru, dan baru menginjakkan kaki di Bandung, Anya pun merekomendasikan tempat untuk makan, yaitu emang-emang nasi goreng pinggir jalan yang ada disekitar Alun-alun Bandung.

Kita bertiga pun bercakap dan bercanda bersama.

Dalam satu pandangan pas ketemu doi. Gue langsung tertarik. But, apa daya saat itu hati gue sudah ada yang punya (baca: pacar). So, sikap gue biasa aja. Justru saat itu yang keliatan suka sama dia temen gue yang nemenin tadi.

Di pertemuan ini, gue tau dia adalah orang yang asik, dua tahun lebih tua dari gua, dia kerja jadi content blogger gitu di suatu perusahaan. Dan satu lagi, dia manis dan cantik. Suatu image sunda yang pertama kali gua jumpai.

Usai kopdar tadi. Gue masih tertarik dengan doi. Yang ternyata keesokan harinya doi mau ke Jogjakarta, karna ada acara disana. Otomatis, gue langsung menawarkan diri untuk ngebantu nganterin dia ke stasiun kircon, kebetulan tempat tinggal gue deket. Dia pun nerima tawaran gue.

Di pertemuan kedua gue dengan dia. Kali ini gue yang ngajak dia makan di tukang sate madura langganan gue. Yang saat itu bapak ibu yang jualannya langsung mengira gue bawa gebetan. Kira-kira rentetan percakapannya seperti ini lah ya:

Ibu Sate: "A, cemewewnya ya?", si Ibu nanya dengan muka sumringah

Anya: "Bukan bu, emang muka-muka kaya dia, keliatan kaya yang nggak punya pacar ya? Pacar dia mah jauh disana", balas doi dengan muka yang nggak tau ngejek atau apa

Gue: "Haha, iya bu bukan, Kita temenan kok.", bales gue menguatkan bahwa kita memang belum ada hubungan apa-apa. Belum loh ya, bukannya nggak. haha

Udah gitu aja. Jangan berharap lebih. Karna gue lupa dengan percakapan selanjutnya. Maklum lah, gue udah hampir 2 tahun berpisah dengannya. #ea #curcol #maaf #ea

Selesai makan. Gue pun nganter doi ke tujuan. Bukan ke Jogjakarta. Ke stasiunnya aja.

Mulai dari situ, gue jadi lebih sering ngehubungin dia dibanding pacar gue yang lagi LDRan sama gue. Duh, ampuni dosa hamba ya Allah.

Gue mulai ngerasa nyaman dengan dia, canda tawa dan senyum mesem memenuhi keseharian dan malam gue, saat ngebaca chat dari dia. Tentulah benih benih suka pun mulai tumbuh dihati, siap untuk disirami dengan tindak lanjut kasih sayang.

Sepulang dia dari Jogja, gue pun ngejemput dia lagi di Stasiun Kircon. Rasa nyaman dan suka yang gue rasa pun bertambah. Kita sama-sama sholat dulu di Masjid Raya Kota Bandung yang kebetulan tak jauh dari lokasi dia tinggal. So, nyantai aja. Kita pun tak lupa untuk bersuka ria seusai sholat sambil menikmati suasana subuh nan dingin di Kota Bandung. Uh, romantisnya saat itu. Kira-kira gue harus bilang "Uunch" nggak ya? #ahsudahlah

Seusai momen itu, gue dan doi lebih sering momotoran bareng. Bahkan sering untuk sekedar bertemu. Pokoknya kita udah lebih wah lah. Wah dihati...

Perjalanan jauh pertama kali yang gue rasakan berdua si doi adalah pas ke kawinan temennya doi. Waktu itu gue iyain aja kemanapun tujuannya. Dan karna gue nggak tau sejauh apa itu pangalengan, dan dia pun nggak tau. Kita berdua pun nekat untuk kesana dengan bermodalkan Gugel meps. Alhamdulillah sampai. Seru lah pokoknya, suasana romantisnya pun dapat. Suasana hujan saat berkendara berdua. Bikin hati dag dig dug banget lah. Oh iya, waktu itu gue udah putus dengan pacar gue. So, gue resmi menyandang gelar jomblo jauh sebelum momotoran berdua ini.

Salah satu alasan gue ngerasa nyaman dengan doi itu adalah karna doi orangnya sangat terbuka. Bahkan dengan orang yang terbilang baru dia kenali ini, doi udah berani nyeritain problem keluarga doi yang complicated banget. Alhasil sukses ngebuat gue lebih terbuka dan lebih menerima dia apa adanya. Saat itu gue berucap dalam hati "Anya, ai lop yu." Tanpa basa basi hati gue sukses jatuh ke hatinya lebih dalam lagi.

Kita sebenarnya udah sama-sama tau gimana perasaan kita masing-masing. Tapi, karna kita sama-sama mau menyelesaikan masalah kita dengan mantan kita masing-masing. Ya kita sama-sama urungkan untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya. #ceilah

Saat ngobrol pun, dia juga pernah menanyakan kepastian hubungan kita berdua. Yang gue jawab saat itu dengan kata "Tunggu aja, aku butuh waktu sebulan, kan baru-baru putus sama mantan, masa udah punya gandengan lagi. Nanti juga aku tembak kok. Sabar ya, ini ujian", nggak kok, kata yang terakhir tadi nggak gue ucapin beneran.

Kondangan selanjutnya yang kita datangi berdua adalah kondangan kakaknya Anya. Kakanya yang sempat gue temui di depan indoapril beberapa waktu sebelum dia menikah. Gue masih ingat waktu gue bareng Anya mau momotoran bareng dan seperti minta izin kakanya dulu. Dia bilang "Jagain Anya ya. Selamat bersenang-senang."

Di kondangan kakanya, kita menjadi lebih deket lagi. Dan jujur aja. Awalnya waktu gue bilang "Wah kaka kamu sama suaminya mirip ya." Itu adalah saat gue ngeliat ibu dan kaka cowo doi duduk berdua. Bukan ke calon mempelai sebenarnya. Bodoh emang gue saat itu. Ya, sebenarnya bodoh sampai sekarang sih.

Gue dengan Anya yang jadi pager ayu pun berselfie ria, biar banyak kenangan gitu deh. Gue makin pasti untuk mengungkapkan perasaan gue. Selepas dari kondangan itu, malemnya gue ketemu doi, dan gue pun memegang tangan doi sembari mengatakan, "Anya, aku suka sama kamu. Mau nggak jadi pacar aku?", oke sebenarnya nggak sesimpel itu sih, tentunya ada basa-basi yang gue udah lupa ngomongin apa aja. Maklumin ya.

"Kamu yakin?", jawab si doi dengan nada yang mulai serius
"Yakin."
"Kan kata kamu, kamu mau nyelesain masalah km sama mantan dulu."
"Udah selesai kok. Kan kaya kata aku dulu. Ini udah sebulan aku kenal sama kamu. Jadi gimana?"

Oke, nggak usah dilanjutin. Lu udah tau gimana lanjutannya. Kalau gue lanjutin, nggak akan ada pertanyaan di benak lu yang bikin lu penasaran dong. Kan jadi nggak asik ya?

Ya, intinya. Gue dan Anya sukses berpacaran. Kita seru-seruan. Semua hal, baik itu negatif maupun positif, mau itu tentang gue, tentang dia, tentang keluarga, sahabat, bahkan tentang hubungan kita berdua, gue omongin semuanya ke dia dengan jujur.

Trus, gimana sih ceritanya kita berdua bisa putus? Gimana sih ceritanya gue bisa jadi punya penyesalan? Pemberontakan antara pikiran dan perasaan?

Ini dia...

Penyesalan Pertama

Gue pernah bilang kalau gue punya feeling kalau kita nggak akan cocok deh kayaknya. Bahkan gue pernah cerita kalau ayah gue pernah bilang ke gue "Hati-hati sama orang yang udah kerja, apalagi dia dua tahun lebih tua dari kamu. Dia pasti mau cepet nikah. Kalau mau, temenan aja dulu. Nggak usah terlalu berharap. Tapi ya, kalau jodoh ya nggak masalah.", dan ini salah satu penyesalan yang gue rasain. Gue menyesal pernah cerita dengan jujurnya hal ini ke dia. Karna dengan gue cerita kaya gitu, alhasil dia sukses jadi nggak yakin dengan hubungan kita. Padahal dia udah pengen nikah banget. Dan dengan umurnya yang udah 20 tahun, so pasti dia pengen punya hubungan yang lebih pasti untuk masa depan. Ya lu semua tau lah gimana perasaan gue yang saat itu berumur 18 tahun.

Penyesalan Kedua
Gue pernah bilang ke dia "Kita sewaktu jalan bareng, nanti bayar sendiri-sendiri aja ya. Kamu kan tau aku anak kosan, dan kamu pun sama. Jadi ya, sebenarnya selama ini kita pacaran, membuat keuangan aku drastis boros.", yang alhasil ngebuat dia ilfeel. Karna diawal gue kenal dia sampai gue ngomong gitu, gue selalu ngebayarin dia, nggak pernah sekali pun ada keluhan. Dia ngerasa gue cuman pencitraan doang waktu pdkt dulu ngebayarin dia, eh pas udah pacaran malah bilang gitu.

Penyesalan Ketiga  
Penyesalan pertama gue udah bikin dia nggak yakin. Penyesalan kedua gue udah bikin dia ilfeel. Di penyesalan ketiga ini adalah penyesalan terbesar yang pernah gue alami.

Gue emang punya feeling bahwa gue nggak akan bener kalau ngelanjutin hubungan dengan doi, dan feeling gue mengatakan gue akan ngerasain hubungan yang nggak bahagia dengan dia. Tapi, selama gue bersama dengan Anya, gue selalu ngerasa nyaman, gue selalu bahagia. Hingga...

Saat-saat mencengangkan terjadi...

Hari itu gue udah hepi-hepian full bareng doi, gue udah senang dan sayang banget sama doi. Kita udah ketawa bareng, romantis bareng. Percakapan mencengangkan itu terjadi pas gue kelaparan dan mampir ke tukang martabak pakistan dulu. Pas nunggu martabaknya jadi, gue udah ngeliat gelagat yang nggak bener dari body language si doi. Gue bayar lah itu martabak. Dan kita pergi meninggalkan tukang martabaknya. Lalu apa yang mencengangkan?

Disaat gue dan doi lagi di perjalanan pulang ke kosannya doi, buat nganterin dia pulang. Dia bilang...

"Gimana kalau kita temenan aja?"

DEG!

Dunia gue berasa runtuh saat itu. Semua rasa bahagia berubah menjadi sedih, pake banget! Sampai sampai air mata gue nggak bisa ditahan untuk membebaskan diri dari belenggu yang menahannya.

"Maksud kamu apa?". jawab gue untuk meyakinkan kalau dia itu salah ngomong apa nggak

"Ya gitu, kita temenan aja?"

"Nggak! Pokoknya nggak. Kamu ngomong apa sih! Udah! Jangan bikin aku bete."

Gue nggak habis pikir, dia tega banget bilang kaya gitu disaat gue lagi seneng-senengnya bareng dia, lagi bahagia-bahagianya bareng dia. Bayangin aja, kita lagi jalan bareng seharian, bahagia bareng. Kaya yang nggak ada masalah sama sekali, dan tiba-tiba dia bilang gitu.

Yang biasanya saat gue nganter dia pulang, selalu senyum ke dia, bilang makasih, nungguin dia pergi dan menghilang ke belokan ke arah kosannya dia. Saat itu, gue nggak lakuin itu, dan bahkan untuk menutupi kesedihan gue, gue tutup kaca helm gue, bahkan kaca pelindung mataharinya juga. Biar gue nggak keliatan nangis. Dan gue langsung memutar balikkan motor dan pulang tanpa ngomong apapun. Gue udah bete banget saat itu.

Saat gue lagi dijalan sampai gue sampai kekosan, gue nggak bisa berhenti untuk sedih dan mengingat betapa kejamnya dia yang udah berani ngomong kayagitu. Berani nyakitin perasaan gue. Malam itu, menjadi malam yang penuh derita bagi gue.

Ke esokan harinya, gue telpon dia untuk memastikan bahwa itu cuman mimpi. Yang ternyata setelah gue telpon, gue yakin kalau itu bukan mimpi. Gue dengan suasana hati yang lebih dingin dan selow pun bertanya ke dia, apa alasan dia ngucapin itu ke gue.

"Aku nggak mau pacaran dulu, aku mau bener-bener berusaha menjalani kehidupan untuk lebih islami. Karna aku sekarang lagi sering-seringnya baca postingan tentang larangan pacaran dan semacamnya. Kita temenan, bukan berarti hubungan kita sampai sini aja. Kita masih bisa kok jalan bareng, main bareng, ketawa bareng."

Dan, penyesalan gue adalah...

Gue akhirnya mengiyakan.

Setelah insiden itu, memang kita masih sering chatting bareng, jalan bareng. Hingga akhirnya anniv kita tiba. Gue ngajak jalan bareng dia. Dan dia mengiyakan.

Kita masih senang-senang bareng, masih seperti yang lagi pacaran. Hingga kita berdua makan bareng di gigel boks braga citiwolk.

"Kita temenan aja ya.", yap, dia mengungkit itu lagi. Tapi, nggak masalah, karna gue udah bilang iya ke dia.

"Lah, kan aku udah bilang iya. Dan aku udah nggak masalah sama itu.", kata gue dengan senyum. Walaupun hatinya nggak senyum.

"Hari ini anniv kita, dan walaupun kita udah jadi temen doang. Aku masih mau ngucapin anniv kita, ngerayain kalau kita udah saling mengenal selama 4 bulan. Ini buat kamu.", Gue ngucapin itu sambil ngasih dia doodle.

Dia nangis saat itu. Jujur, gue agak seneng sih dia nangis. Karna dengan gitu dia artinya sadar kalau dia mutusin gue itu hal yang salah dan nyakitin gue. "Kamu baik banget sih, maafin ya aku udah kejam ke kamu." "Iya, nggak apa kok. Aku udah maklumin.", yang sebenarnya adalah kata-kata bullshit yang saat itu gue katakan. Gue mau bilang ke diri gue yang dulu, lu bodoh bro, BODOH!

Setelah itu, kita masih jalan bareng, hepi bareng. Hingga....

Selepas kita jalan bareng dan makan bareng. Saat perjalanan pulang ke kosan dia, dia bilang...

"Kita nggak usah ketemuan lagi ya."

DEG!

Gue sukses ngerasain sakit lagi. Karna gue ngerasa, kok dia gini sih. Kok kata-kata dia yang pernah gue denger sebelumnya kerasa bullshit banget ya.

"Kenapa? Maksud kamu apa?"

"Soalnya kalau kita ketemuan. Aku nggak akan sanggup buat ngelupain kamu. Setiap kali kita ketemu, aku selalu jadi mau milikin kamu lagi."

"Oke kalau gitu.", itu adalah salah satu penyesalan gue juga. Gue ngerasa gue yang saat itu ngucapin kayagitu itu BODOH banget! Gue kesel dengan diri gue yang dulu. AKH~

Beberapa waktu setelah kita resmi untuk nggak ketemuan lagi.

Gue yang saat itu lagi kangen dan mau balikan lagi sama dia, ngechat dia lagi. Gue bilang semuanya tentang perasaan yang bener-bener gue rasakan dengan tulus. Dengan tulus loh ya, bukan bersama tulus.

Dan yang bikin gue kaget adalah jawabannya...

"Maaf, kamu harus move on dari aku. Aku udah punya pacar."

What The Jek!!!

apa-apaan ini!!!!

Hal brengsek apalagi yang gue rasakan di dunia ini!!!

Ya tuhan, jangan jemput aku sebelum aku jemput dia. Eh, yang ini gk sih. Soalnya lebay banget.

Gue makin ngerasa kalau semua yang dia pernah ucapin ke gue itu nggak lebih dari sekedar bullshit. Lagi-lagi itu yang gue rasakan. But, apa boleh buat. Gue sayang ke dia. Apa dayaku??? Apa daya hatiku???

Dan, beberapa waktu setelah itu. Gue pernah tanya balik. Alasan dia pacaran itu apa.

"Soalnya waktu itu aku ngeliat dp bm kamu sama cewe. Aku kira kamu udah punya pacar lagi."

Hmm, alasan simpel tapi ngeselin.

"Hah? Yang mana? Aku selama ini ngejomblo tau. Kenapa kamu nggak tanya langsung sih buat mastiin?" Ketik gue dengan kesel. Fix. Kesel banget.

Perasaan gue sudah bercampur aduk. Antara kesel, nyesel, dan ngeyel. Ngeyel kalau gue tetep aja suka ke dia, meski kesel dan nyesel.

Pertemuan gue selanjutnya adalah saat kopdar nasional komunitas. Dan...

GUE NOSTALGIA BARENG! What The Jek! banget kan ya...

Yang lain pada nonton suatu acara yang kebetulan ada saat itu. Sedangkan kita berdua udah nyerah dan memilih untuk duduk dibawah ditempat yang lebih nyaman untuk ngobrol berdua.

Gue tanyain ke dia, gimana kabar dia, gimana kabar hubungan dia? Dan dia jawab "Aku selama ini ngejomblo kok.", "Ah, kamu bohong banget, aku tau kamu setelah sama aku pacaran. Akuin deh.", "Emang sih, tapi nggak aku akuin kalau kita pacaran. Udah ah, nggak usah bahas itu lagi."

"Aku minta maaf ya, udah pernah ngecewain kamu, nyakitin kamu."

"Iya, nggak apa, itu udah lalu."

Hari itu pun kita sukses untuk bernostalgia dan gue baper banget dengan seksama. Karna hampir seharian itu kita berdua barengan dan hepi-hepi lagi. Hampir seharian kita deket lagi. Dan saat pertama kali guee mandang dia lagi, gue langsung jatuh hati lagi. Tapi... Lagi-lagi gue ada yang punya, dan gue udah sayang sama si dia yang jauh disana. Haha, iya, gue LDRan lagi.

Kehadiran Anya saat itu benar-benar menjadi ujian banget bagi gue.

Saat kopdar itu adalah saat gue KKN. Jadi, gue cuman izin beberapa hari untuk mengikuti kopdar itu.

Pertemuan selanjutnya setelah ini adalah dihari ulang tahun dia yang ke-22.

Kebetulan hari itu gue ada di Bandung. Dan gue kaget bercampur seneng, karna ada telpon dari Anya. Gue bertanya-tanya dalam hati, buat apa dia nelpon gue ya.

Terdengar suara tangis dan juga seperti sedang ketakutan.

"Dul, aku kecelakaan."

"Hah?! Kecelakaan gimana."

"Aku jatuh dari motor, dan sekarang motor aku rusak, lagi di bengkel."

"Sekarang kamu dimana?"

"Dikosan. Aku bingung harus gimana."

"Oke, aku kesana. Kamu mau dibawain apa?"

"Eh, nggak usah. Ntar ngerepotin kamu lagi."

"Nggak, nggak ngerepotin kok. Yaudah, nanti aku bawain buah ya. Kamu mau nitip apalagi?"

"Yaudah deh, aku nitip kunyit aja ya."

"Oke, nanti aku beli kunyit sebelum kesana. Tunggu aku ya."

"Iya. Makasih ya sebelumnya. Maaf ngerepotin."

"Iya, nggak masalah."

Gue pun langsung meluncur ke kosannya dengan membawakan buah dan kunyit pesanan dia. Sebenarnya ada satu lagi titipan, tapi gue lupa apaan. Yaudah, nggak usah terlalu dipermasalahin kali ya.

Sesampainya dikosan doi. Gue ngehibur dia, trus gue nyuruh dia untuk ngehubungin keluarga dia. "Ibu, atau kakak kamu udah tau blum soal ini?", "Belum, aku nggak mau mereka khawatir. Nanti ngerepotin mereka lagi", "Ya, emang sih bakal ngerepotin, dan pastinya bikin mereka khawatir. Tapi, itu harus. Gimana pun keluarga kamu harus tau ini.", "Sebenarnya kamu tau yang aku hubungi pertama kali, aku nggak tau lagi harus kasih tau siapa.", "Pokoknya kamu tenang, udah, itu lukanya nggak masalah kok Insya Allah. Kamu check up aja ke dokter, trus kamu hubungi keluarga kamu."

Dan saat itu ada temannya yang lain yang katanya mau ngejenguk. Yang ternyata cowo.

Dari gelagat dan cara dia ngehibur Anya. Gue tau, kalau dia suka sama Anya. Karna gue tau gimana cara cowo untuk nunjukkin perhatiannya ke cewe. Karna saat itu gue punya pacar, dan gue sayang sama pacar gue. Maka, gue bilang ke Anya...

"Dia suka loh sama kamu."

"Ah masa sih?"

"Iya, beneran. Aku tau, karna aku cowo."

"Emang sih dia dulu pernah nembak aku, tapi aku tolak."

"Yaudah, emang dia suka sama kamu tau."

Oke, sebenarnya ini termasuk penyesalan gue juga. Kok gue bodoh ya. haha

Keesokan harinya, gue ke Bandung lagi. Dan gue udah berniat untuk ngebeliin kue ulang tahun buat Anya. Karna, sewaktu gue pacaran sama dia, gue udah bertekad, kalau suatu saat nanti gue harus ngerayain ultah bareng dia.

Gue bela-belain bawa motor dengan kecepatan lambat. Biar kue ultah yang gue taruh ditas nggak rusak. Dan gue bener-bener bawa motor dari Desa KKN gue di sumedang ke Bandung dengan hati-hati banget.

Gue hubungin dia.

"Anya, kamu sibuk nggak?"

"Iya nih, kenapa?"

"Aku mau ketemu kamu. Ada yang mau aku kasih."

"Liat nanti aja ya. Aku nggak bisa kasih kepastian."

"Oke deh, tapi usahain hari ini ya. Pokoknya hari ini kita harus ketemu. Nggak apa kalau sebentar juga."

Malam itu pun gue bener-bener maksa ke dia kalau gue harus ketemu. Walaupun dia nggak ada dikosan pun, rencananya gue tetep mau naruh kuenya di depan pintu kosan dia, dan ngasih catatan ke dia.

Ternyata, dia ada dikosan. Gue pun langsung keatas sambil bawa kue, dan gue nyalain deh lilinnya yang menunjukkan angka 22. Ibu-ibu yang gue kenal dikosannya langsung nanya "Buat Anya ya?" "Hehe, iya bu."

Gue pun langsung ke depan pintu kosan dia. Dan... Gue ketuk pintunya.

Dia buka, lalu...

"Happy birthday to you~", gue nyanyi lagu happy birthday ke dia.

"Ya, ampun. Aku nggak nyangka kamu bakal kayagini. Aku nggak nyangka banget.", rada nggak enak sih dia bilang gitu, tapi ya wajar. Mungkin karna gue yang dia kenal sangat hemat dan perhitungan dengan segala keuangan untuk hidup, kok mau banget beliin dia gituan.

Hari itu pun gue sukses membuat surprise ke dia. Dan gue bernostalgia lagi.

Gue kasih deh catatan yang awalnya mau gue kasih kalau dia nggak ada. Tapi, nggak apa deh, gue kasih aja, daripada dia nggak tau. Didalam catatan itu, gue kasih tau, kalau sebenarnya gue masih sayang ke dia. Tapi, gue sadar, gue punya orang yang sayang ke gue.

Ini sebenarnya sebuah penyesalan juga bagi gue. Ngapain gue kasih catatan itu!!!!

Saat inilah gue ngungkapin semuanya bernostalgia lagi tentang kenangan-kenangan bersamanya.

"Kamu kenapa sih dulu mau temenan doang sama aku?"

"Ya, karna aku nggak yakin sama kamu. Kamu kan tau aku lebih tua 2 tahun dari kamu. Ya, aku harus cari orang yang lebih pasti untuk masa depan aku. Sedangkan perjalanan hidup kamu itu masih jauh, niat masa depan kamu yang pengen S2, S3, punya kerja dulu, baru nikah, itu hal yang sulit untuk aku terima. Dan lagi ayah kamu seakan nggak merestui kita."

"Kok kamu dengan mudahnya gitu sih. Hei, sadar! Aku bilang kayagitu karna aku memang nggak tau pasti tentang masa depan. Kalau misalnya setelah lulus kuliah ini aku dapat kerjaan duluan, trus bisa nikah dulu. Ya aku bakal jalani. Dan soal orang tua aku, kalaupun mereka nggak merestui, aku bakal yakinin mereka untuk ngerestuin kita. Karna kita yang ngejalanin, bukan mereka. Walaupun mereka orang tua aku. Mereka nggak ada haknya untuk itu semua. Karna ini hidupku."

"Iya sih. Tapi, ya gimana lagi, saat itu aku berpikir kalau kamu nggak pasti rencananya. Sedangkan aku udah pingin nikah banget, dan udah ditanyain mulu kapan nikah sama keluarga. Dan lagi, kamu kan udah ada yang bikin bahagia."

"Yaudah lah, yang penting kamu udah tau yang sebenarnya. Kamu harusnya tanya ke aku langsung. Jangan langsung main menyimpulkan gitu aja. Kita masih bisa membicarakan ini semua."

Itulah pertemuan gue yang terakhir. Dan berlangsung singkat. Karna malam itu juga gue harus balik lagi ke desa KKN gue.

Beberapa waktu setelah itu, gue putus dengan pacar gue. *Sekarang udah jadi mantan berarti

Gue chat lagi dia. Gue ungkapin semua perasaan gue dengan jujur ke dia. Gue ungkapin, kalau sampai sekarang, meski udah hampir 2 tahun kita berpisah. Hati gue tetap masih tertuju kedia. Apapun film galau yang gue tonton, ataupun film bahagia. Gue selalu teringat ke kenangan kita berdua.

Tapi..

"Dul, kali ini kamu harus bener-bener move on, dan lupain aku. Karna aku sekarang udah nyaman banget dengan pacar aku, dan kita udah ngerencanain untuk menikah."

JLEB!

Gue udah nggak tau harus bilang apa saat itu. Dunia gue serasa runtuh, udah kaya rumah gue yang kena gempa dan rata dengan tanah.

Ya, pacar dia saat ini sekaligus calon suaminya, adalah orang yang gue kasih tau kalau cowo itu suka sama dia. Lucu ya kehidupan ini.

Bagi gue, meskipun banyak kenangan pahit yang gue rasakan bareng dia. Tetep aja kenangan indahnya lebih berkesan. Dan, beginilah gue kalau udah sayang banget sama cewe. Gue nggak akan pernah lupa kenangan-kenangan bersama cewe itu.

Dia lah yang membuat hubungan gue setelahnya menjadi hambar, membuat gue bertanya-tanya. "Sebenarnya apa sih makna pacaran buat gue? Buat apa sih pacaran."

Dan karna kejadian inilah sebenarnya...

Gue bertekad untuk... Jomblo Setahun!

Ya, gue ingin mencoba mengawali tekad ini dengan jomblo setahun dulu. Untuk selanjutnya, ya gimana nanti. Karna gue nggak tau gimana rencana Allah kedepannya.







You Might Also Like

2 komentar:

  1. Wuaaaaaaaaw
    Panjang beneeer
    Dramatis
    Ini berarti lagi flashback tentang si anya yaaa
    Gak papa laaah, masa lalu itu perlu ditulis, "mengunci ingatan", yaa buat jadi peljaran dan kenang2an

    Sepertinyaaaa hmmm kamu bakalan poligami deh 😆😆

    Salam kenal yaa
    Senang baca kisah drama yang nulisnya flow dan menggebu-gebu
    Super keceh

    BalasHapus
  2. Yep.. Very powerful and smooth writing. Serasa lg nonton film romance nasional. Kece banget!

    BalasHapus

Yang penting sopan. nggak ada spam dan link aktif.

Salam Penting,
@ajefathoni