Cerpen Penting

Plis Deh Gue Cowo! - Episode Ketahuan

7/16/2015 Abdul Jabbar Fathoni 3 Comments

image
Episode Ketahuan
Cerita sebelumnya - Episode Surat Misteri
Doni pun menghilang dari tatapan mata gue. Entah mimik wajah apa yang harus gue pasang saat itu, lantaran yang gue rasakan saat itu campur aduk banget, galau, kesel, marah, rasa yang terdalam, rasa yang pernah ada, dan rasa ingin memiliki #eh.

Gue pun bergegas ke tempat parkir untuk mengambil Pinky. Sesaat gue berjalan menuju parkiran sepeda seperti ada yang memanggil, "Hai, Mawar", gue pun hanya melambaikan tangan tanpa menengok kearah yang menyapa dan menjawab "Hai", ucap gue lesu.

Setelah mengambil Pinky, gue langsung mengayuhnya menuju rumah.

Galau... sangat galau yang gue rasakan. Berharap di masa SMA ini gue bisa mendapatkan pacar "cewe", eh malah ditembak sama orang yang punya seperangkat alat kelam*in yang sejenis. Kayuhan sepeda yang sangat pelan, membawa gue kepada arah yang tak pasti, terkadang kekiri, kekanan, keatas, eits tunggu dulu, gue bukan pemain sirkus, yang keatas tadi coret aja ya. #skip

Seiring berjalannya waktu, kecepatan kayuhan gue pun tetep aja nggak naik-naik, hanya sebatas 1 km/jam. Mungkin bila dibandingkan dengan siput tercepat didunia kayuhan gue masih kalah *ya kali*. Dalam perjalanan pulang, jalanan serasa hanya ada gue seorang, langit pun terasa kelam, dan tiba-tiba... gue melihat sesuatu yang bercahaya namun agak buram hampir terlindas rodanya Pinky.

Itu adalah... "anjir! ta*i kucing!!!", ucap gue

Demi menjaga harkat dan martabat Pinky dihadapan orang lain, gue pun segera membanting stang kekiri, kekanan, lalu kulihat saja banyak pohon asmara *cemara woy* lalu... gue langsung melompat . Pinky terjatuh disamping ta*i dan gue... sukses berdiri. Saat itu gue langsung menyanyikan lagu kemenangan. Lagu PWG - Berdiri Terinjak adalah lagu kemenangan yang pas saat itu.

"Berdiri... terinjak! hadapi hidupku
Berdiri... beranjak, kau bukan lawanku
Camkan apa yang ku ucap!"

Begitu lah yang gue lakukan setelah sukses menyelamatkan Pinky dari keterpurukan dengan berkorban demi dia. Ya, gue berdiri sehabis lompat dari Pinky, lalu terinjak ta*i tadi, dan menyanyi sambil keliling mengitari ta*i penuh bangga sambil menunjuknya saat lirik "Camkan apa yang ku ucap!". Saat itu, gue merasa bangga, bisa menyelamatkan sepeda pemberian Nyokap itu dari noda dan bau yang tak sedap. But, yes... Gue baru sadar, kini sepatu gue... #hiks

Setelah menggesek-gesekkan sepatu penuh noda dan bau untuk menghilangkan bercak-bercak barang bukti yang tertinggal. Gue berjalan sambil memegang Pinky penuh perasaan ke taman terdekat untuk membersihkan dengan sukses bercak-bercak barang bukti tersebut.

Saat membersihkan sepatu agar menghilangkan dia dari tuduhan atas barang bukti yang tertinggal itu, gue serasa jadi anak yang penuh nista. Di keran air, gue menggosok bercak barang bukti yang tertinggal di sepatu, lalu perlahan namun pasti gue basuh dengan penuh khidmat *lalu terdengar backsound sedih* #krik. Sampai sepatu gue menjadi suci kembali. #ea

Gue pun kembali ke jalan yang benar. Bukan, ini belum saatnya gue tobat. Tapi jalan yang benar itu adalah rumah gue. #asssek #apaansih #krik #skip

Sesaat setelah sampai rumah, gue pun langsung memarkir Pinky di halaman rumah, masuk ke rumah dan langsung menuju kamar.

"Ndet, det, det", bunyi getaran singkat tanda sms masuk handphone gue yg nggak pernah dibawa ke sekolah.

"Siapa ya yang sms? orang lagi galau juga.", ucap gue heran

Gue pun membaca sebuah pesan dari nomor tak bernama, yang artinya nomor baru di kontak gue.


"Hi, nich Mawar kan?"

"Ya, ada apa?", balas gue ketus pada sms itu.

"Ndet, det, det.", nggak lama setelah gue balas, pesan balasan baru dari dia si nomor tak bernama masuk.

"Gpp, lech nal donkh? "

Alay amat ini anak, kayaknya cewek labil. Wah, tapi lumayan nih kalau ternyata dia cewe cantik.

"Boleh, tapi maaf ini siapa ya?", balas gue sopan, saat membayangkan seorang cewe walaupun alay ini nge-sms gue.

Tapi, saat gue menanyakan identitasnya, sms balasan tak kunjung datang dari si nomor tak bernama yang gue bayangkan seorang cewe cantik tapi alay + labil itu. Singkat saja sinota berny guba sewecapilaybil. *tetep aja panjang*

Gue pun langsung tak menghiraukan kembali sms itu. Langsung aja gue berbaring diatas kasur empuk gue. Tapi...

"Serasa, ada yang lupa, apaan ya?", ucap gue bingung saat merasakan ada sesuatu yang terlupakan saat itu.

Lalu...

"Mawar!", Nyokap gue berteriak seperti kompor meledak. Gue pun tersentak kaget dan langsung terduduk diatas kasur.

"Nduk, duk, duk.", bunyi tanda ada seseorang menaiki tangga yang membuat gue gelugupan.

"Cekit.", bunyi denyit pintu terbuka. Dan...

"Jedar", bunyi petasan yang sontak membuat gue kaget dengan sukses saat itu. "Eh, copot, eh copot.", ucap Nyokap kaget agak telat dikit.

"Anjir, siapa sih yang nyalain petasan sore-sore gini!", bisik gue yang ketika itu fokus sejenak pada bunyi petasan, sebelum menghadapi kenyataan yang ada dihadapan.

"Mah, apa yang copot?", sebuah pertanyaan nggak penting terucap spontan dari mulut gue saat itu.

"Alah, nggak penting apa yang copot! Sekarang kamu bisa jelasin ini???!!!!", tanya Nyokap dengan mimik wajah penuh amarah ke gue.

Ternyata... itu adalah "Barbie tak berdaya yang sengaja gue tinggal tadi pagi", gue langsung tercengang kaget melihatnya.

Sontak gue tepok jidat dan berucap, "Mampus! Barbie ketahuan..."

Cerita selanjutnya - Episode Ternyata

You Might Also Like

3 komentar:

Yang penting sopan. nggak ada spam dan link aktif.

Salam Penting,
@ajefathoni