Cerpen Penting

Plis Deh Gue Cowo! - Episode Cinta Pertama

9/03/2014 Abdul Jabbar Fathoni 32 Comments

Episode Cinta Pertama
Cerita sebelumnya - Episode Masuk SMA

Hari pertama gue sekolah berlalu dengan sangat fatal. Ya, fatal karena nggak sempat kasih tau ke teman sekelas gue kalau gue itu sebenarnya cowo. Gue bingung, gimana caranya kasih tau ke mereka. Apalagi seragam cowo gue masih belum jadi. Nggak mungkin kan, gue datang agak telat ke sekolah, trus tiba-tiba nyerobot masuk kelas dan bilang "Selamat Pagi teman-teman! Aku cowo loh!". Yang ada, gue bakal dijauhin karena dianggap freak/ cabul. Tapi, setelah dipikir-pikir, kayanya ini ide yang cukup bagus! Gue coba deh besok.

Dan ternyata, gue beneran telat bangun a.k.a kesiangan! Dengan tergesa-gesa gue langsung bangun dan loncat dari kasur.

Krek!
Terdengar bunyi sesuatu yang patah, firasat buruk pun langsung menghantui gue saat mendengar bunyi itu.

Gue menengok kearah bunyi tersebut... "Astaga! Mampus gue. Ini kan boneka barbie kesayangan Nyokap yang dikasih ke gue beberapa tahun lalu.", Teriak gue dalam hati. Gue panik nggak ketulungan, karena ternyata asal bunyi  yang terdengar mengenaskan itu adalah boneka barbie gue yang nggak sengaja keinjak. Stop! Jangan salah sangka dulu, boneka tersebut adalah pemberian Nyokap saat gue ultah beberapa tahun lalu. Dengan muka yang pucat gue kembali melihat ke boneka yang lemah tak berdaya dengan tangan dan kaki yang patah karena terjatuh dan terinjak. Saat Nyokap memberikan boneka barbie, beliau memberikan wejangan. 

"Ini boneka kesayangan Mamah waktu berumur 8 tahun. Kamu harus jaga ini baik-baik!", ucap Nyokap tegas disertai tatapan mata yang berapi-api.

"Tapi, Mah...", timpal gue yang sebenarnya ingin menolak hadiah itu.

"Tidak ada tapi-tapian. Hadiah berharga ini sudah Mamah kasih ke kamu. Artinya, kamu itu anak yang berharga bagi Mamah. Tapi, kalau boneka ini rusak. Kamu sudah pasti tau akibatnya! nya... nya... nya", suara Nyokap saat memberi wejangan itu seakan menggema di telinga gue.

Percakapan gue dengan Nyokap dulu masih terngiang-ngiang di telinga, apalagi ketika boneka itu rusak karena ulah gue sendiri.

Karena tak mau ketahuan, gue masukkan boneka beserta serpihan-serpihannya ke dalam tas, dengan niat akan menguburkannya setelah mandi nanti. Sempurna!

Setelah mandi dengan sukses. Gue pun berangkat ke sekolah mengenakan sepeda... pink. Ya, pink! Nyokap orangnya emang selalu penuh dengan persiapan. Ketika gue lahir, Nyokap yang saat itu menganggap gue cewe, langsung meminta Bokap untuk membelikan semua perabotan bayi cewe yang bernuansa pinky. Begitu juga saat gue beranjak SMA, karena jarak sekolah dari rumah agak jauh, dengan senang hati, Nyokap membelikan gue sepeda. Karena Nyokap sudah terbiasa membelikan gue benda-benda yang berbau cewe, akhirnya yang beliau beli adalah sepeda berwarna pink ini. Begitulah jawaban Nyokap yang lagi-lagi dengan muka "Santai"nya saat menjawab pertanyaan gue yang ingin tau asal-usul kenapa gue dibeliin sepeda berwarna pink.

Sesampainya di sekolah, gue langsung lari menuju kelas. Tentunya setelah mengunci si pinky-sepeda pink-gue di parkiran. Sesampainya di depan pintu kelas, gue pun mempersiapkan diri. Gue rapiin rambut yang acak-acakan terkena angin, dan menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan lewat pantat. “Inilah saatnya untuk mewujudkan rencana yang dapat mengubah kehidupan SMA gue menjadi lebih baik", gue bergumam sambil senyum-senyum mesem. Setelah siap, gue pun masuk, dan...

"Selamat pagi teman-teman! Aku cowo loh!", Teriak gue sambil nyengir kuda dan mendobrak pintu kelas yang tertutup itu.

Seketika suasana kelas menjadi hening, seluruh pandangan tertuju pada gue. Bukan. Bukan karena pesona gue mengalihkan dunia mereka. Mereka pada ngelihat gue dengan tatapan seolah gue adalah tersangka sodomi bocah SD telah melakukan pemerkosaan sesama jenis. Saat gue masih bengong, seseorang memberikan gue isyarat untuk melihat ke arah depan dekat papan tulis, dengan bibir monyongnya yang cetar membahana. Tak sempat gue melihat, tiba-tiba...

"Fyusss.", Penghapus papan tulis pun melewati muka gue, untung aja sempat menghindar.

Gue kaget. Dan, tak sempat menenangkan diri dari kekagetan itu. Guru yang sedang mengajar itu tiba-tiba ngomel.

"Dasar kurang ajar!!! Kamu nggak tau ini sudah jam berapa?", ucap guru yang sukses membuat gue kaget.

"Loh, bukannya ini masih 15 menit sebelum bel masuk, Pak?", tanya gue dengan muka yang penuh kebingungan sambil melihat jam dinding yang ada di kelas.

"Bodo Amat! Peraturan dari saya, kalian harus sudah siap dan duduk manis 30 menit sebelum bel masuk. Paham kamu?!", Beliau teriak tepat dihadapan gue, tak lupa dengan embel-embel cairan mulutnya yang super tersebut. Ulala.

"Tapi.."

"Tidak ada tapi-tapian! Lari keliling lapangan basket sekarang juga! Dan, berhenti ketika kamu melihat bapak keluar dari kelas!", tak sempat gue mengelak, beliau sudah menyemburkan perintah yang membuat mental gue lumpuh-tak berdaya untuk ngelawan. Betul-betul super sekali.

Gue pun berlari dengan menggendong tas yang beratnya udah kayak berisi tabung gas 12 kg. Tetes demi tetes cairan keringat bercucuran dari seluruh permukaan kulit. Menandakan saat-saat gue sudah tak kuat lagi menjalani hubungan hukuman ini.

Beliau pun akhirnya keluar dari kelas. Tak lama setelah beliau keluar, bel istirahat berbunyi. Yang artinya gue berlari keliling lapangan basket selama 4 jam. Mantab! 

Bruk!
Gue ambruk tepat di depan ruang kelas, tak sanggup menahan rasa capek yang luar biasa ini.

"Kamu nggak apa-apa, kan?", terdengar suara nan lembut yang menyejukkan hati.

"Nggak apa-apa kok.", jawab gue dengan wajah menunduk karena tak sanggup menahan capeknya lari 4 jam tadi.

"Ou iya, kenalkan namaku Via.", dia memperkenalkan dirinya. Dengan suara nan lembut itu, gue pun penasaran, siapa cewe pemilik suara lembut tersebut, juga dengan nama yang familiar di telinga.

"Wah!", ucap gue dalam hati saat gue menoleh kearahnya.

Wajahnya begitu menawan, dengan dihiasi oleh rambut yang hitam pekat serta terawat, mata bulat berwarna coklat berbinar dihiasi bulu mata yang sudah seperti jambul khatulistiwa milik Sarwono. Serta bibir tipis yang menyunggingkan senyuman ke arah gue. Sejenak gue terpana akan pesonanya, yang membuat rasa capek keliling lapangan selama 4 jam lenyap seketika. Ya, dia membuat gue tercengang yang menunjukkan seolah dia adalah bidadari yang turun ke bumi ini hanya untuk memberikan gue pertanyaan "Kamu nggak apa-apa, kan?", benar-benar luar biasa. Inikah cinta pada pandangan pertama? Gue bertanya-tanya dalam hati dengan perasaan yang tak menentu dan jantung yang berdegup dengan kencangnya.

"Dasar ada-ada saja. Kamu sih teriak kayak gitu. Bilang kalau kamu cowo lagi. Haha.", tukasnya mengubah sensasi terpesona yang gue rasakan tadi menjadi rasa malu.

"Hehe.", hanya itu kata yang mampu terucap dari mulut gue sambil garuk-garuk kepala. Bukan. Gue garuk-garuk kepala, emang karena gatal aja.

"Yuk, masuk ke kelas.", ucapnya sembari menjulurkan tangan kearah gue. Benar saja, ternyata dia memang teman sekelas gue.

Setelah kuraih tangan kecil mungil nan lembut itu, kami berdua pun masuk ke kelas dan jadian.

"Cie yang tadi teriak ngakunya cowo.", ucap salah satu teman sekelas gue, cewe.

Seisi kelas pun menertawakan gue karena kelakuan gue yang malah jadi absurd tadi. 

"Apaan sih! Aku nggak tau kalau misalkan sudah ada guru didepan. Killer lagi! Sudah deh! Tega banget kalian tertawa diatas penderitaanku!.", jawab gue dengan emosi.

Bletak!
Bunyi benda yang terjatuh dari tas gue.

"Tuh, bawa boneka barbie di sekolah ngaku cowo. Mana ada cowo yang bawa boneka! Udahlah nggak usah ngada-ngada. Lihat woy! Kamu itu pakai rok! Malah ngaku-ngaku cowo. Dasar aneh!", ejek cewe itu lagi.

Ya. Boneka yang pada awalnya ingin gue kubur itu, akhirnya terbawa sampai ke sekolah. Gue pun hanya bisa terdiam, lalu bergegas mengambil dan memasukkan barbie itu kembali dan berucap dalam hati, "Mampus gue, sial banget sih hari ini! Nggak bakalan pernah diakuin cowok seumur hidup dah gue."

"Cukup! Nggak usah ngejek dia lagi. Toh, dia nggak tau semua hal ini bakal terjadi.", ucap salah satu cowo yang sedari tadi tak ikut terlarut dalam tawa, yang ternyata teman sebangku gue, sebut saja Doni.

Dia datang ke arah gue dan mengatakan, "Sudah, nggak usah dipikirkan Mawar. Yuk duduk.", dia mempersilahkan gue duduk dengan gaya pengawal yang mengantarkan ratu ke singgasananya, cukup geli sih. Tapi, ah, sudahlah!

Semua hal yang terjadi begitu saja, sudah gue buang jauh-jauh. Karena, sepanjang pelajaran tak henti-hentinya gue terpesona akan kecantikan Via. Sungguh seperti bidadari.

Bel istirahat kedua pun berbunyi, kedua orang yang mendukung gue tersebut langsung mengajak gue untuk makan siang di kantin sekolah. Gue pun senang sekaligus geli. Senang karena diajak makan oleh Via, dan geli karena si Doni mengajak gue makan seperti orang yang ingin mengajak kencan. Karena gue nggak mau kesempatan ini hilang begitu saja, gue biarkan Doni ikut makan bersama kami. Tentu saja gue menganggap Doni hanya teman. Walaupun sepertinya dia menganggap lain. Terpikir hal seperti itu, membuat gue merinding seketika. Dimodusin sama cowo itu rasanya lebih mengerikan dibanding dengan film horor manapun. Dan, lebih menggelikan daripada ngelihat binatang menjijikkan apapun.

Gue dan Via pun bercakap-cakap dengan akrabnya, begitu pula dengan Doni. Kami bertiga sudah seperti teman dekat yang lama tak berjumpa. Sekali lagi, kecantikan Via masih membuat gue terpukau. Dan ketika gue mengalihkan pandangan ke Doni, seketika perasaan terpukau dengan kecantikan Via tersebut sirna, berganti dengan perasaan horor tadi. Geli! Suer. Tapi, anggap aja teman biasa. So, it's o.k.

Bel pelajaran terakhir pun berbunyi. Kami bergegas pergi dari kantin dan masuk ke ruangan kelas. Tanpa gue sadari, sedari tadi gue menatap Via dengan tatapan terpukau kembali.

Bel pulang sekolah berbunyi. Setelah guru keluar dari kelas. Gue segera mendatangi Via dan mengajaknya pulang bareng, "Pulang sama-sama yuk.", ajak gue dengan penuh senyuman modus. Dia pun mengiyakan.

Dalam perjalanan pulang gue meminta nomor hp Via. Dia pun memberikannya dengan senang hati. 

"Yes.", ucap gue dalam hati dengan ekspresi yang penuh rasa bahagia kayak abis menang undian berhadiah pesawat tempur.

Saat persimpangan memisahkan kami, "Dah Via! Sampai jumpa besok.", ucap gue memberi salam perpisahan dengan penuh senyuman modus. "Ya, sampai jumpa besok. Mawar.", dia pun membalas senyuman "modus" gue.

"Ah, semua berlalu begitu cepat.", ucap gue dalam hati. Hari ini, walaupun penuh dengan kesialan. Tapi, bagi gue adalah hari yang paling indah dalam hidup. Karena gue baru kali ini merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.  

"Assalamu'alaikum, Mah. Aku pulang!", sesampai dirumah, gue pun mengetuk pintu.

"Loh, nak. Sepedamu mana?", ucap Nyokap heran sambil membukakan pintu untuk gue. Mendengar hal itu, gue langsung lari dengan paniknya ke arah sekolah,

"Kampret! Ngerusak suasana aja. Bisa-bisanya gue lupa!", ucap gue panik dalam hati.

Bersambung... ke - Cerita Selanjutnya - Episode Surat Misteri

You Might Also Like

32 komentar:

  1. Balasan
    1. Makasih banyak bang :) Pantengin terus atuh :3

      Hapus
  2. Cowo keren, heu.. salam kenal gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini yang dimaksud keren si Mawar apa penulis cerpennya nih? :/

      Oke, Salam kenal juga :)

      Hapus
  3. ceritanya bagus, lucu, tapi gak ngebayangin aja sih kalo tokoh Mawar ini ada didunia nyata, apalagi sampai ditaksir sama temennya sendiri gitu, jadi merinding sendiri ngebayanginnya -_- buruan dilanjutin yakk, penasaran gimana kelanjutan gimana mawar ngemodusin via :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe makasih. Ehm, sebenarnya ada kemungkinannya sih mba. Soalnya kan ada cowo yang saking imutnya mirip banget sama cewe, dan kehidupan absurdnya mendukung banget buat dia jadi cewe, ya kira" gitu lah. hihi

      Merinding kan? Apalagi gua mba xD hihi, ada modusin via nggak yah di episode selanjutnya xD

      Hapus
  4. Hihihihi... horor banget hidupnya. Harus bersusah payah gitu buat dapetin predikat 'cowok' ya. Hahaha.

    Parah gila tuh mamanya. Kalo kyk gitu sama aja menjerumuskan anaknya ke arah yg g bener. Masa cowok dikasih yg pinky2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, horor banget. Nggak kebayang kalau gua punya kehidupan kayak gitu bang xD

      Makanya, nyokapnya emang jahat bener dah, parah. xP

      Hapus
  5. singkat padat jelas : dul aku gak paham [cukup]

    BalasHapus
  6. Kampret, emang sebegitu ceweknya itu si mawar? trus kalo diajak Via ke kamar mandi, menang banyak dong dia.

    Layak ditunggu cerita selanjutnya, tapi jangan panjang - panjang ya nulisnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahaha, bisa jadi bang xD duh, liat kelanjutannya aja deh :D

      Hehe, iya, kalo panjang-panjang gua juga bosen nulisnya xD

      Hapus
  7. waduh betul ahmad muazim bialng, horor bener hidupnya...
    ujung2nya sepedanya kelupaan di sekolah.
    ni orang cowok tapi segala sesuatunya bikin lebih mirip ke cewe.
    aduh sekalian aja koleksi benda2 hellokitty hehe.
    lanjutanyya segera yaa :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iya betul emang bang azim xD
      Waduh, jangan hello kitty... Tapi, bagus juga untuk ide selanjutnya xD

      Hihi, oke oke

      Hapus
  8. Balasan
    1. Trus maunya The End gitu? nggak asik dong :3

      Hapus
  9. Ini cerpen 'kan ya? MAsih perlu koreksi banyak tuh dari EYD sama KBBI nya, dari tanda baca sampai per kalimatnya dalam paragraf. Alurnya udah keren. Kalau mau konseling (belagu banget saya:D) Silakan ibox biar kita belajar nulis cerpen bareng.

    Semangat nulis teruss^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ini cerpen mba. Hehe, emang sengaja pake bahasa yang ngena sama keseharian remaja xD Mba itu typo apa tulisan alay? xP
      Wah, bisa bisa. Nanti kalau jadi konseling, ntar tak kirim naskah cerpennya xD

      Yap, makasih banyak :)

      Hapus
  10. lucu cerita fiksinya, tapi aku kok ilfil gimana gitu ya sama mawar hehe
    gak kebayang aja kalo beneran ada laki laki kayak gitu
    cukup geblek ya mawar, sampe lupa bawa pulang sepedanya, gara gara tersepona sama via.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, makasih udah dibilang lucu x3 Haha, wajar. Gua aja ilfil kok sama mawar. Apalagi sama dia yang ngerayu kamu. Iya, kamu xD

      Iya, geblek emang, itulah yang namanya cinta itu buta xP

      Hapus
  11. adoooh klo mawar bnran ad d dnia nyata gmana ya? gk kbayang. sepeda pink. dpat hdiah boneka. bner2 cwe -_-

    lanjut duul.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya jangan kebanyakan ngebayangin mba xP

      Yos. Ntar ya. Abis ospek dah kelar smua xD

      Hapus
  12. gatau mau komen apa dul ;3; hehehehe
    btw, terus di improve yah nulisnya :3
    semoga cerita soal si mawar ini bisa di bukukan suatu saat nanti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah trus ini komen apa bukan ya? :/ xD

      Sip, ajarin gua ya ji :3
      Aaamiin. Liat aja nanti xD

      Hapus
  13. Akakakaka.. Aku bener-bener ngebayangin si mawar ini benar-benar ada :3 terus dia sekelas sama aku, apa jadinya? bahaha xD

    dul, ada award nih buat kamu :D cek yaaa http://vaarisa.blogspot.com/2014/09/award-legend-award-liebster-award.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahaha. Jangan dibayangin, ntar kebayang yang nggak" deh xP
      Apa jadinya? mungkin lo yang jadi sasaran dia selanjutnya :3

      Waduh. Iya deh, karena udah pernah dapat award. Jadi edit di posting sebelumnya aja ya. ntar kalo udah jadi dikasih tau :)

      Hapus
  14. serem amat yang jadi mawar haha. ngga kebayang deh kalo itu benern hiiiiy
    tapi kasian juga sih. ah salah emaknya juga nih, masa anak cowo diperlakukan kaya gitu. sungguh teralu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aul. Lo suka banget ya ngebayangin yg nggak". Bahaya lu! Curiga gue xP
      Makanya, ntar kalo lo jadi emak jangan gitu ya. xD

      Hapus
  15. yahh kasian amat lu yang sabar yaaahh..hehehe..tapi Mama kamu udah bisa menerima kenyataan kalau ternyata anaknya cowok khan??
    owh, kaykanya aku udah baca cerita yang sebelum ini yakk?? eh bentar deh ini fiksi apa bukan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan gua yg kasian mba. Si Mawar :P Iya, udah bisa terima kenyataan, walau masih khilaf x_x

      Emang udah kali, ini episode kedua soalnya.
      Iya, ini cerpen fiksi. Bukan sepeda fiksi x_x

      Hapus
  16. haha ceritanya keren,agak geli sekaligus ilfiil juga sih kalau si doni ada rasa sama si mawar :D di tunggu cerita lho cerita selanjutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, ya kan. Makasih udah bilang keren.... gue juga ilfil pas ngetiknya :D Insya Allah gue lanjutin lagi deh :) sering-sering aja mampir, ntar ada aja pemberitahuan selanjutnya :D

      Hapus

Yang penting sopan. nggak ada spam dan link aktif.

Salam Penting,
@ajefathoni