Penting Banget

Semua Terserah Padamu, Aku Begini Adanya

8/09/2014 Abdul Jabbar Fathoni 8 Comments

Cerita sebelumnya...

Setelah sekian lama dan hampir aja gue jadi blogger murtad, akhirnya gue mendapatkan ide juga buat posting, tapi karena gue lagi galau, dan karena alasan itu juga gue nggak posting. Yaudah, sekalian aja gue posting dengan curhat ke kalian... Boleh kan???
Semua Terserah Padamu...

Seperti yang pernah gue bilang sebelumnya lewat komentar disalah satu postingan gue #IYKWIM. Ya, gue galau karena masih menunggu kepastian dari cewe itu...

Kalau boleh gue curhat nih ye, gue udah ngejar dia selama 5 tahun. Ya, emang sih selama lima tahun itu gue nggak terus stalking dia, dan pacaran sama cewe lain malahan. Tapi, gue punya alasan. Gue nggak bisa merasa terpaku sama dia terus. Gue juga harus bisa move on!

Tapi... baru-baru ini gue sadar. Alasan kenapa dia nggak pernah nerima gue, karena gue kurang yakin dengan perasaan gue ke dia.Setelah sekian lama gue nggak sadar, akhirnya gue sadar sekarang... Gue ingin bener-bener serius ke dia.

Dan gue ingin, dia lah yang benar-benar gue sayangi saat ini. Seperti cerita sebelumnya Ini, dan ini cerita tentangnya yang paling awal. Gue nggak bisa melepas pandangan gue ke dia, mungkin ini cinta yang gue rasakan. Dan, gue ingin lebih mendalaminya...

Yang gue rasakan sekarang adalah "galau berat". Semua film ataupun series tentang cinta yang gue tonton, itu mengingatkan kisah penungguan gue dengan dia selama ini.

Pada saat lebaran, kami sekelas naik motor dan keliling ke semua rumah temen sekelas waktu SMA dulu (Ceilah, baru juga 2 bulan lulus), dan dia juga ikutan. Disana, temen gue dengan enaknya bercanda dan merayunya, dan si dia keliatan hepi banget (nggak, dia memang begitu orangnya, have fun always). Gue pengen banget rasanya merayunya dan membuat dia senyum begitu indah seperti yang gue lihat dan rasakan sekarang.

Tapi, yang namanya nyesek itu "Kita ingin melakukan sesuatu untuknya, tapi nggak kesampean."
Ya, keinginan gue simpel. Gue hanya ingin jujur dan blak-blakan seperti perlakuan temen gue ke dia. Tapi, gue sadar kalo cara gue nggak kek gitu untuk ngedekatinnya. Gue rasa, gue nggak sanggup untuk mendekatinya dengan cara yang sama kek gitu, karena gue sadar gue bukan tipe yang kek gitu.

Akhirnya, gue hanya bisa meratapi senyum indahnya yang menawan dan membuat gue terpesona, namun didalam hati gue "galau merana".

Gue mencoba untuk merayunya menggunakan cara gue sendiri, dan gue dapat momen yang pas. Dirumah temen gue ada permen yang menyuguhkan kata-kata dibalik bungkusnya #IYKWIM, nah, itu gue gunakan untuk merayunya (I know, that's is very mainstream, but i just wanna do that*artinya, aku sekarang, bahwa itu feri biasa, tapi aku hanya ingin melakukan mati#eh)

Tapi, saat itu temen gue juga sedang merayu dia memakai cara yang sama. Dan saat kutemukan sebuah permen yang berisi "Jadian yuk?" dan itu gue tunjukkin ke temen gue yang cowo dengan kode "itu untuk dia dari gue". Dia pun paham, dan dia merayu si cewe dengan memberikan permen itu dan bilang itu dari gue. Dan, bodohnya gue ngelak, temen gue pun langsung bilang "Yaudah, dari gue aja kalo gitu.". Si cewe pun hanya bisa tertawa (dia emang gitu orangnya, tapi gue yakin dia nggak suka sama temen gue itu). Tapi, akhirnya gue bisa menunjukkan satu permen dengan PD, "You're the one" Itu lah kata dari permen yang pantas untuk dia bagi gue.

Saat itu sudah maghrib, beberapa temen gue udah mau pulang, dan kebetulan temen gue yang cewe yang nebengin dia bilang mau pulang juga, kalau dia mau terus ikut dengan kami yaudah nggak apa, ntar biar dianterin sama yang lain, dan temen gue yang ngerayu itu nyanggupin "ayo, sini gue anter".

Entah kenapa, dia terdiam sejenak. Gue pun hanya bisa meneguk liur dan terdiam, walaupun dalam hati ingin mengantarkan dia pulang dengan gue, namun lagi-lagi mulut tak sanggup berkata. Entah, dia paham kalau disitu masih ada gue, dan dia nggak mau gue kecewa atau nggak, akhirnya dia pulang dan menolak ajakan temen gue yang merayu dia tersebut. Gue cukup kecewa, tapi hati masih tak bisa untuk berbuat blak-blakan. Hingga temen gue yang lain berucap "Yaudah, itu Abdul ada, ntar ikut dia aja." Gue hanya melihat dia tanpa berucap apa-apa. Dan, dia dengan setengah hati terdiam. Gue nggak paham apa yang dia maksud, gue pun hanya bisa merelakan kepergiannya. Akhirnya, gue nyesel kenapa momen itu nggak gue gunakan, padahal itu tepat untuk membuat gue lebih dekat dengan dia.

Lengkaplah sudah, ternyata saat dia dirumah, dia sendirian. Gue berkata dalam hati "Kenapa nggak gue aja yang anter, gue seharusnya gentle dan mengajaknya lebih dulu.". Btw, gue tau dia sendiri, karena gue ngekhawatirin dia (ya jelas aja, secara rumah dia jauh banget dari rute yang kami tempuh.) Dan, asli gue nyesel ngebiarin dia gitu aja.

Keesokan harinya gue BM dia "Hari ini kami lanjut, kalau mau ikut datang ke rumah Coki jam 8 pagi ya.". Dia membalas, "Gue lagi beres-beres rumah, ntar gue nyusul, bilang lah lagi dirumah siapa ntar.", "Oke deh" jawab gue. Dan, saat dirumah kedua yang kami datangi, dia BM gue "Gue otw. Lagi dimana nih kalian?", gue pun langsung inisiatif nelpon dia :

Gue : "Lagi dimana?" terdengar suara motor dari hpnya yang artinya dia lagi dijalan beneran*lah, emangnya lu kira dimana, dasar bloon

Dia : "Lagi dijalan nih."

Gue : "Yaudah kepinggir dulu aja."

Dia : "Iya, bentar ya."

Gue : "Tau rumah Cika nggak?"

Dia : "Nggak, dimana rumahnya?"

Gue : "Rumah dia dijalan Badak 8, ntar kalau udah dibadak 8 belokan kanan pertama lurus aja, ntar ada aja motor kami didepan rumahnya."

Dia : "Oh, iya, makasih."

Gue pun ngasih kabar ke temen-temen kalo dia mau datang. Dan, temen-temen udah tau lama kok, kalau gue ngejar dia dari lama. "Cie, ehm." Kata temen gue yang kemaren rayu dia, dan dia udah nggak terlalu ngerayu lagi, karena kami sudah saling curhat kemaren malam saat menuju rumah temen gue di km 10,5. Gue diam, dan cuman bisa senyum mesem buat ngebales dia.

Doi pun akhirnya tiba. Langsung aja gue suruh istirahat, "duduk aja dulu." kata gue, disambut sorakan temen-temen yang lain.

Kami pun langsung menuju rumah selanjutnya. Di rumah selanjutnya, gue suka banget ngeliat dia ngajak main adek temen gue yang rumahnya kami kunjungi itu. Gue suka disaat dia terlihat seperti Ibu yang sedang mengasuh anak (baca : sisi keibuan). Dan jujur, dia terlihat manis banget saat itu.

Tapi, semua nggak berjalan mulus seperti yang gue harapkan. Ternyata disaat kami berkunjung kembali ke rumah temen gue di km. 10,5. Temen gue kembali merayu doi. Gue nggak tau apa maksud yang dia mau. Tapi, gue masih percaya ke dia, karena curhat dia memberikan rasa simpati gue ke dia. Gue hanya bisa meratapi senyuman si cewe yang sedang dirayu oleh temen gue itu. Gue orangnya nggak bisa merayu disaat didepan yang lain, apalagi gue bukan siapa-siapanya dia.

Gue duduk termenung di sofa hijau sambil memegang tangan sofa *ciye. Sekali lagi, perasaan mupeng yang nggak kesampean ini buat hati nyesek. Tapi, gue senang melihat dia bahagia. Dibandingkan di hari sebelumnya, hari disaat dia merasa tercaci maki oleh omongan mantannya yang blak-blakan + ngeselin itu. Tapi, gue lebih senang kalo yang ngebuat dia bahagia itu gue. Tapi, gue harus legowo (sabar) menghadapi semua ini. Anggaplah dia sedang bercanda dengan teman laki-lakinya, dan gue nggak boleh mengekang dia (ceilah, kek udah pasti aja). Tapi, gue yakin, dia nggak ada maksud sedikit pun buat nyakitin hati gue, walaupun hati gue udah sakit deluan.

Tapi, semua kegalauan itu udah sirna. Pernah gue ngeliat dia BMan dengan seseorang. Dan, gue cie-in (baca : tanggapan cemburu). Ternyata dia ngerti, dan langsung bilang "Nggak kok, bukan siapa-siapa, cuman kakak kelas." , "kakak itu juga (baca : mantan)", "Iya, ada, katanya dia mau kerumah.", "Trus gimana?", "Ya, makanya gue balas BM mereka, dan ngasih tau kalau lagi diluar, ya nggak bisa gitu deh.". Inilah yang membuat gue merasa nyaman dengannya, saat-saat kami bertatap mata dan berbicara satu sama lain mengungkapkan rasa gundah gulana.

Sampai saat ini, gue masih terus-terusan smsan sama dia (BB dia rusak katanya, so, bisanya smsan doang, tapi nggak apa bagi gue), saat ini gue paham, kapan saatnya gue sms dia pas dia lagi nggak sibuk, dan dia juga pahamin gue, dia terus membalas sms gue dengan ucapan maaf baru balas. Itu semua gue pahamin, karena gue tau "Dia bukan tipe orang yang nggak menerima perasaan orang gitu aja. Dan, dia nggak pernah nggak ngebalas kabar dari gue, walau itu perlu beberapa hari". Itulah yang membuat gue masih Mencintainya... Jika suatu saat dia membaca lagi cerita ini, gue hanya ingin dia tau "Gue sangat-sangat sayang sama dia!" Dan gue akan katakan. "Walau tak pasti, aku ingin terus menanti." Dan satu hal lagi yang ingin gue sampaikan... "Aku ingin tau, seberapa sanggupkah aku menunggumu... Dan, jika kubisa memastikan... Aku ingin menunggumu sampai kapanpun... Semoga kau paham..." Itulah yang gue rasakan selama ini... #hiks


You Might Also Like

8 komentar:

  1. Isinya curhatan banget. Jadi agak males bacanya. Hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, iya bro. Sori ye curhat... Gue cuman nggak tau lagi harus curhat ke siapa. Yaudah, gua curahkan kesini smua...

      Hapus
  2. Cuman bisa nyengir doang baca ginian nih. Dari hati bener nulisnya. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hoho.... Memang dari hati bener itu... Hati yang paling dalem malah. Thx udah baca curhatan gue :D

      Hapus
  3. 5 tahun? Lama bener ya. Gue pernah 4 tahun, tanpa pacaran sama cowo lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, kalau cewe sih kan emang rata-rata nunggu ada yang nembak. Lah kalau cowo, cewe mana yang mau nembak cowo deluan? Yang namanya masih muda dan labil, apalagi cowo, susah nahan godaan. Tapi... Tergantung masing-masing orang sih :D

      Hapus
  4. RIP english nih hahaha..
    Wah kejar dong jangan nunggu,kapan dapetnya kalau gitu. Biarin orang lain mau gimanain dia yang penting lu harus bahagiain dia kalo emang lu beneran sayang #ciyehhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. RIP english??? nggak paham nih maksudnya :3

      Ya, jelas lah... pasti dikejar... Memang gue biarin orang lain mau gimanain dia #DalamKonteksPositif . Dan, gue udah berbuat segalanya buat ngebahagiain dia :) Gue selalu dukung dia disaat apapun, selalu ada buat dia... Gue tau dia paham dengan semua perasaan gue, tapi... Bagi dia gue ada dikawasan Friendzone #hiks... Tapi, gue nggak nyerah gitu aja... Gue pingin nantang diri gue sendiri, seberapa lama sih gue tahan untuk merasakan ketidakpastian ini #Ceilah... :3

      Hapus

Yang penting sopan. nggak ada spam dan link aktif.

Salam Penting,
@ajefathoni