Penting Banget

Kisah Kacau, Derita Perantau

7/25/2014 Abdul Jabbar Fathoni 4 Comments

Akhirnya, gua sampai di Palangka Raya (dibaca : Pulang Kampung)

Eits, tunggu dulu... Walaupun Palangka Raya itu kampung gue, tapi gue bukan lahir di Palangka Raya.

Oke, kenalin... Gue orang yang terus merantau semasa hidup, cuman ya, gue lebih lama idup di Palangka Raya aja. Gue itu, lahir (dibaca : numpang) di Surabaya, Jawa Timur. Nah, kok bisa ya jadi ampe ke Palangka Raya?

Seru nih kalau beneran ada!

Jadi gini, beberapa abad yang silam *kaya tua banget gue . Gue beserta kakak gue semuanya dilahirin di Surabaya *Cie #Kompak . Dan, kebetulan aja pas gue baru idup 2 tahun di Surabaya, kami sekeluarga pindah ke Palangka Raya.

Nah, hal itu membuat gue bingung. Kalau misal ada yang nanya ke gue kayak gini, "Mas, asal mana ya?" , gue punya pilihan ganda buat nanya balik ke orang itu :
A. "Asal kelahiran?"
B. "Tempat hidup?"
C. "Tempat tinggal?"

Tapi, karena gue nggak mungkin nanya balik ke orang yang baru gue kenal, sehingga membuat gue keliatan menjawab kayak gini, "Mau tau aja atau mau tau banget? Ciyus? Enelan?" . Oke, maaf... Tadi gue keselek kulit durian #eh

Jadi, buat menjawab tiap orang yang nanyain gue gitu, gue akan jawab Panjang x Lebar x Tinggi yang membuat balok yang bervolume 1000 meter kubik.So, menurut kalian, gue harus jawab yang kaya gimana sih?

Nah, selain gue bingung untuk menjawab pertanyaan diatas. Anehnya lagi, dalam berbahasa tuh, gue nggak konsisten jadinya. Gini nih ya, gue bisa Bahasa Jawa sekenanya, Bahasa Dayak yang notabene seharusnya orang Kalimantan Tengah gunakan sehari-hari gue taunya kalo nggak bahasa dayaknya "Apa, kepala, anjing, babi." , udah gitu aja. Nah, anehnya... yang gue fasih malahan Bahasa Banjar, yaitu bahasa orang Kalimantan Selatan. Ya, nggak sefasih orang Banjar asli sih, tapi lumayan lah buat ngejek orang #loh . Dan sekarang, gue tinggal di Bandung... Ngomong aja jarang, pas diajakin ngomong sama orang aja pake Bahasa Indonesia. Sebenarnya, ngerti sih orang ngomong pake Bahasa Sunda, tapi gue nggak bisa balesnya. So, menurut kalian, gue harus gimana?

Ya, nasib emang udah jadi perantau.

Nah, sekarang gue mau berkicau soal kisah lumayan asik pas gue ikut tes jalur mandiri di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Seperti biasa, dengan wajah yang pas"an gue melangkah masuk ke Universitas, ke koridor dekat ruang ujian... dan duduk di pojokan sambil memasang muka memelas ingin minta diajakin ngomong.

Kalau mau tau kisah sebelumnya BACA DISINI

Dengan tampang seadanya, akhirnya ada juga yang ngajakin gue ngomong. Tapi, lagi-lagi "Cowo". Nggak masalah sih, bagi seorang cowo seperti gue (dibaca : ma{c}ho) tuh memang harusnya bergaul dengan cowo. *Oke, yang tadi diralat ya bacanya, gue normal kok.

Begini perkicauan kami :

Doi : "Tes diruang mana, mas?"
Gue : "Di ruang 1, mas"
Doi : "Oh, sama dong." #cie
Gue : "Iya, mas. Mas ngambil jurusan apa?"
Doi : "Aku ngambil PLB"
Gue : "Wah, sama dong." #cielagi
Doi : "Oh, ya. Namanya siapa mas?"
Gue : (bersalaman dengan doi) "Abdul"
Doi : "Saya, Riang."

Setelah itu, kami pun berbicara satu sama lain, lalu... Jadian. #amitkuadrat *Sekali lagi, gue normal

Riang ini, orangnya asik banget menurut gue, dia supel banget. Dan karena dia, gue akhirnya nggak lagi seperti cerita sebelumnya. Karena, kali ini gue dapat temen #lokasi yang berjenis kelamin "cewe" . Tapi, sayang cuman lokasi. Untuk yang nggak tau maksud temen #lokasi ini, baca aja cerita sebelumnya, disitu udah dijelasin kok.

Jadi, kata si Riang, orang tuanya itu ngasih nama ke dia, kakaknya dan adeknya sepaket. Kakaknya namanya Harpan Laksana, dia Riang, adeknya Salamina. Ya, itu nama urang Sunda yang artinya "Harapan akan tercapai/terlaksana, bahagia selamanya."

Riang ini yang membuat gue kenal sama cewe yang namanya giga *kalo nggak salah . Intinya si cewe itu orang Belitung *Bukan belatung ya, awas keseleo bacanya
Dan lagi, dia itu jujur dan blak"an banget orangnya, baru kenal dengan itu cewe, dia langsung minta PIN BMnya. Tapi, karena si cewe nggak ada BM, akhirnya si Riang cuman dapat nomor hpnya aja. Menurut gue yang penting ada kontaknya sih.

Walaupun gue kenal, gue itu seperti nyamuk yang mengganggu mereka ngomong aja. Jadi, mereka sedang asik membuat topik, gue ikutan bales. Tapi, nggak apa sih, asal dia tetep temen #lokasi gue. #cie

Satu lagi, namanya Dinar. Cewe cucu pemilik kost di gegerkalong ini sama supelnya dengan Riang. Dengan khasnya logat lo-gue punya dia, kami berasa enjoy banget kalo ngomong. Tapi, tiap kali mereka ngomong dan bercanda pake Bahasa Sunda, gue cuman ikutan nyengir (dibaca : nggak ngerti) . Dan lagi-lagi, si Riang dengan fasihnya mengucapkan "Eh, minta kontak kamu dong.". Jujur, sebenarnya orang seperti Riang susah dicari, enak kalo temenan sama orang bertipe supel gini, banyak kenalan ntarannya. Terjadilah percakapan :

Dinar : "Nomor gue cuman 1 doang, jangan diminta dong."
Riang : "Yaelah, maksudnya aku mau nyatat nomor kamu."
Dinar : "Yaudah, 10 ribu dulu sini."
Riang : "Eh, nggak jadi deh kalo gitu."
Dinar : "Becanda kok. Nih" (memberikan nomornya ke Riang)
Riang : "Kok yang angkat cewe."
Dinar : "Ah, masa ada yang angkat?"
Riang : "Iya, nih, coba dengerin" (memberikan hpnya untuk didengarkan)
Dinar : "Itu operator. Dasar Edan tenan.(edan banget)"

Lagi-lagi, gue cuman bisa duduk melongo dan nyengir nggak jelas melihat aksi sinetron mereka. #JadiNyamukLagi

Jadi perantau itu, ada enaknya, juga ada nggak enaknya.

Enaknya, gue diajak ke dufan sama kakak gue sambil gue disuruh jagain ponakan gue yang absurd di hotel, karena kakak gue ada pelatihan dulu sebelum kami ke dufan. Nah, nggak enaknya itu, setiap kesana kemari, gue cuman ngeliat pemandangan nyesek di bulan puasa ini. Ya, orang pacaran, pelukan, yang membuat hati teriris dan mengatakan "Anda kurang beruntung, silahkan coba lagi."

Di dufan, gue banyak naik wahana ekstrim yang baru pertama kali gue naikin. Wahana pertama yang gue coba langsung yang ekstrim. Katakanlah "Halilintar", sebuah wahana kecepatan tinggi dengan sensasi ekstrim itu gue naikin tanpa pemanasan. Gue masuk ke wahana, dan lagi, gue langsung dibilangin, "Mas, yang sendiri silahkan paling depan." , dalam hati gue ungkap "Ya mas, tapi, kata sendirinya nggak usah juga kali diberi tekanan." . Dan, bener aja, gue paling depan, dan satu-satunya pengunjung yang sendiri naik wahana ekstrim tersebut. #nasib . Di wahana ini tuh gue ragu dengan jaminan keselamatan, soalnya cuman dikasih penahan semacam ban yang melingkar di kepala kebawah ampe badan. Gue baru aja mau mastiin kalau udah kekunci. Eh, ini wahana udah meluncur. Yang bikin kayak mau jatuh tu pas bagian melawan gravitasinya. Anjir adalah kata yang pas untuk wahana ini!

Setelah gue naik halilintar, gue, kakak dan ponakan pun ke wahana yang lupa gue namanya, intinya kami naik ke wahana yang menyediakan semacam perahu lingkaran dengan tempat duduk untuk 8 orang, trus dibawa ke arena sungai berarus cepat, pulangnya kayak kucing yang jatuh ke sungai *alias basah . Anehnya lagi, kami bertiga memasuki wahana tersebut dua kali, tapi syukur yang kedua kalinya nggak kebasahan. Jadi, lengkaplah penderitaan jalan didufan dengan pakaian basah setengah doang, tapi sepatu dan kaos kaki terkena terpaan air dengan indahnya.

Setelah masuk wahana air itu, kami bertiga langsung ke wahana Happy Feet. Gue kira wahana ini merupakan wahana dimana bisa menikmati pemandangan salju dan ada robot penguin yang gerak-gerak gitu. Eh, nggak taunya wahananya cuman nonton ulang cuplikan film happy feet. Tapi, nggak apa lah. Gue sempat menikmati sensasi duduk berdua dengan cewe #asli waktu wahana kedua. Gue sengaja berpisah dengan kakak dan ponakan gue, cari tempat duduk dipojokan atas. Dan, ternyata ada cewe yang duduk disebelah gue. Di wahana kedua Happy Feet ini diberikan sensasi seperti kursi pijat yang bergetar dan bergoyang. Karena kursinya kurang lebih sama dengan yang ada di bioskop, so, agak romantis lah sensasi yang kami rasakan. Dan, tanpa sengaja gue dan dia (dibaca :tangan kami), menyentuh tanpa disengaja. #ngenes . Tapi, gue tetep berusaha cool dan cuek. Padahal dalam hati udah menangis kegirangan. Tapi, tetep aja, gue nggak kenal dia sama sekali. Kalo diliat sekilas sih lumayan lah enak dipandang, tapi keknya lebih muda dari gue. Oke, gue bukan pedofil akut, so, gue anggap pertemuan biasa aja. #ngarep-padahal

Setelah wahana Happy Feet. Gue dan kakak gue dengan jahatnya meninggalkan ponakan sendiri untuk menaiki wahana Hysteria. Dan, ehm, untuk gue yang Fallin In Phobia *nggak tau istilah untuk takut ketinggian apa, anggap aja itu betul. Gue dan kakak tetep pengen naik wahana itu, dan... selama wahana berjalan gue cuman bisa menunduk dan melihat kebawah. Sensasinya itu Wanjiir banget pake z. Dan lagi, ternyata penjaga wahananya ada motoin keadaan gue yang nista itu. So, cetak aja, lagi pula gue #keliatan ganteng disitu. Bagi yang Fallin In Phobia akut, gue saranin jangan naik wahana ini. Gue #Jera

Setelah itu, kami naik wahana Niagara-gara. Ini wahana paling garing menurut gue, kita keliling pake perahu batang pohon, dan mungkin niatnya nakutin penumpang. Tapi, menurut gue lebih mirip acara lawak ga jelas daripada nakutin. Yang rame pas wahana ini, pas kita dinaikin ke puncak, trus diturunin dan dibawah sudah ada air yang menunggu untuk membuat kita basah abisss. Gue beri nilai B untuk wahana ini.

Abis wahana Niagara-gara, kami menuju Bianglala. Oke, bagi yang nggak mau waktunya habis percuma gara-gara Bianglala doang. Menurut gue jangan naik wahana ini. Waktu abis hampir 30 menit cuman buat ngeliat sekitar doang. Tapi, kalau lo naiknya berdua sama pacar lo doang sih, gue anjurin untuk naik ini. Ingat, kalau berdua ya. #TertawaLicik

Saran buat gue ya, kalau mau kedufan jangan sendiri. Karna lo bakal sakit hati ngeliat dimana-mana orang pacaran. Dan, serius!!! Mereka nggak bakal peduli dengan lo. Tapi, kalau lo ngebet pengen ke dufan sendiri. Saatnya lo beraksi cari jodoh disana. Kalau mau enak, lo cari wahana Baku Toki. Karena, gue dapat pandangan sekilas dari cewe berjilbab yang menurut gue "cantik". Cuman kami nggak bersama bermain disitu. #ngarep

Abis di dufan, gue pun antar balik kakak ke Bandara. Trus buka puasa di Bandara. Trus, langsung cabut ke Bandung. Di bis, gue dapat temen ngomong lagi. Tapi... dengan sukses gue bilang "bapak-bapak" . Syukurnya, omongan kami nyambung. Sama-sama curhat tentang kehidupan. #hiks... terharu gue.

Dalam perjalanan pulang, gue melihat sebuah tulisan yang bikin gue bingung. Namanya "Pasar Petani", tapi dalam Bahasa Inggris. Ini bikin gue bertanya-tanya, diantara pilihan ganda ini, menurut lo yang mana yang bener? :

A. Didalam sana, ada sawah dan ladang yang membentang, trus ada petani yang sedang memanen padi. Lalu orang-orang dengan riang gembira membeli beras yang langsung dari habitatnya. Wow banget ini...

B. Didalam sana, tempat petani tinggal dan bertransaksi menggunakan sistem barter untuk hasil panin mereka masing-masing...

C. Gue salah mengartikan.

D. Bisa jadi semua jawaban benar. #maksa

Sesampainya di Kost. Gue pun waspada. Siapa tau ada pemandangan yang tak asing dimata, tapi jijik rasanya. Ya, gue khawatir pas gue datang, kost gue udah jadi sarang kecoa. Tapi, yang gue rasakan tentang kekhawatiran gue itu syukur nggak beneran terjadi. Setelah gue mensurvey beberapa tempat keluar dan mangkalnya sikecoa, gue pastikan bahwa kost gue "aman". Gue pun kembali mengaktivasi kegiatan anak kost, mandi-nonton anime-tidur-blogging-browsing-tidur-Buka Puasa-Blogging-Browsing-Sahur-Tidur ngebo-mandi. *Untuk sholat, itu sudah pasti wajib, so, nggak perlu gue masukin ke daftar ya.

Nah, setelah gue nyatakan dan mendeklarasikan kost gue "aman". Ternyata dugaan gue salah. Dan ini absurd banget. Kejadian kecoa menari ini nggak disangka banget terjadi. Di tengah malam, gue pun dengan rileksnya sakit perut. So, karena gue nggak mau terjadi yang nggak banget. Gue pun "pup". Nah, pas gue melepas celana, dan sudah siap membombardir, itu kecoa #nongol. "Anjir!!! Kaget gue." Itulah kata yang terucap sambil gue langsung berdiri dan loncat-loncat nggak jelas dikamar mandi plus-plus *ada toiletnya itu. Gue pun berdiri sejenak, dan menunggu keadaan mulai aman. Dan, baru aja mau gue eksekusi itu kecoa, dia udah ngibrit kedalam lobang deket kloset. Ini bener-bener pembombardiran terabsurd dan paling menegangkan bagi gue. Ya, gue nggak mau aja pas lagi asik membombardir, itu kecoa masuk ke lubang itu gue secara naas, dan... Oke, gue jijik, jadi nggak usah dilanjutin ya. Intinya itu absurd banget!!! Wanjir plus-plus melebihi wahana Hysteria kalo kata gue mah...

Untuk memastikan, tidak ada kecoa yang kembali menari, gue pun memakai cairan pembunuh kecoa yang kaya diiklan-iklan itu tuh. Gue semprot aja ditempat itu kecoa insaf menari. Semoga, selama gue tinggalkan itu kost selama 10 hari lebih, bener-bener "aman". Itu emang resiko, kalau kamar kost berkamar mandi didalam. So, buat yang senasib ama gue, tapi itu kecoa blum nongol, tinggal tunggu tanggal nongolnya aja.

Tiba lah saatnya gue pulang kampung... Setelah hampir sebulan tinggal di Bandung dengan kisah-kasih mengeneskan gue. Akhirnya, gue bisa kembali ke Kota tempat gue hidup, tumbuh dan berkembang ini. Rasanya tuh, ehm banget. Nah, di Bandara ini, gue ngeliat segerombolan bule *Bukan bu le ya... Bule ini tuh, yang mana cewek dan cowok gue hampir nggak bisa bedain. Dan, saat salah satu bule melakukan gerak-gerik mencurigakan, gue langsung salah fokus. Itu adalah pada saat dia melepas bajunya didepan orang banyak. Gue langsung melihat dan menunggu hal yang diinginkan terjadi, setelah deg-degan menunggu hal yang diinginkan #IYKWIM. Ternyata, itu bule cowo setelah gue dengan sukses melihat dia lepas baju, dan menyisakan kaos kutang di badannya, dan gue pun tidak melihat adanya sesuatu yang menandakan kalo dia cewe. Setelah menyadari kejadian tersebut, gue langsung insaf dan mengucap dalam hati, "Astaghfirullah!!! Ingat dul, ingat... Lagi puasa!!!"

Setelah kejadian tak enak dipandang itu, gue langsung menuju ruang tunggu. Gue pun memberikan tiket dan KTP dengan foto Buronan gue tersebut. Gue gugup, takutnya karna foto KTP gue itu, gue dicurigai jambret yang menyamar. Tapi, kekhawatiran gue itu tidak terjadi. Tapi... Karena gue katro dan baru pertama kali naik pesawat sendiri, alhasil, gue disuruh balik sama petugas Bandara karena gue belum beli e-ticket-boarding passnya. #Parah . Gue pun, kembali masuk antrian untuk dicek tiket dan KTPnya sesuai atau nggak, kali ini dengan berbeda petugas yang gue berikan tiket, ketakutan gue kembali datang. Tapi syukur, itu nggak bener-bener terjadi.

Tiba diruang tunggu, gue duduk dulu sambil membaca novel humor yang belum gue baca. Setelah waktu menunjukkan angka 10. Gue pun melihat ke jadwal yang ada di gerbang C6. Menunjukkan, Pesawat Singa Air JT688 tujuan ke Pontianak. Gue bingung, punya gue Singa Air JT866 tujuan ke Palangka Raya. Gue pun takut salah naik pesawat, dan lagi duit gue udah ampir ludes buat perjalanan pulang ini. So, kalau salah naik pesawat, berabe lah gue. Pas masuk ke ruang C6 pun gue tanya ke petugas penjaga pintu yang memverifikasi tiket :

Gue : "Mba, ini bener kan pesawatnya tujuan ke Palangka Raya?"
Doi : "Iya mas, bener kok. Bisa tolong perlihatkan tiketnya mas. Mau diabsen dulu."
Gue : "Oh, iya mba. Soalnya tadi didepan saya lihat mengarah ke pontianak."
Doi : "Iya, itu yang sebelah mas."

Gue pun duduk dikursi, sambil berpikir. Aha... Ternyata gue ingat!!! Gue salah liat, itu pesawat bener aja yang mengarah ke Pontianak karna boarding jam 10.10, sedangkan pesawat gue boarding jam 11.10 . Sepertinya kaca mata gue perlu direparasi. #Okesip

Duduk dikursi dengan nista, ternyata dibelakang gue ada beberapa orang mandarin yang bercanda ria menggunakan bahasa mandarin. Gue sama sekali nggak ngerti dengan apa yang diomongkan oleh mereka. Karena bahasa dan logatnya asik, gue hampir nggak bisa menahan ketawa. *Buat orang cina, maaf ya, gue nggak bermaksud SARA, serius! . Dari beberapa yang gue dengar, gue cuman bisa mendengar kata :
-Serah kau le
-Kebo tai
-Blewah
-Po la si genteng, si genteng

Okelah, itu semua menurut gue sama sekali nggak ada yang pas sama yang mereka omongkan. Tapi, akhirnya ada satu kata yang gue paham. Salah satu dari mereka menyebutkan "Teraweh". #Okesip

You Might Also Like

4 komentar:

  1. Sama lah mas kayak gue :D gue idupnya sekarang juga numpang dikota orang hhhaaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi masih konsisten kan. Lah gue, asal Palangka Raya, kelahiran Surabaya, tinggal di Bandung #hiks

      Hapus
  2. Waaah, dulu pernah merantau. Sekarang menetap di kota sendiri. Jadi kepengen mrantau lagi *mupeng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya udah, yuk ikutan gue merantau. Gue blum dapat temen yang sejati nih #ngarep

      Hapus

Yang penting sopan. nggak ada spam dan link aktif.

Salam Penting,
@ajefathoni