Penting Banget

Kisah Mengeneskan

6/30/2014 Abdul Jabbar Fathoni 2 Comments

Ini merupakan kisah kejonesan gue*Akhirnya ngaku juga kalo jones... Gue udah ngejomblo selama 9 Bulan, ceilah kaya hamil aja ya 9 Bulan. Perjalanan gue ke Bandung untuk kuliah membuat gue lebih merasakan pahitnya jadi jomblo. Nggak ada yang nanyain kabar, nggak ada yang memberikan kehangatan lewat kata-kata sms ataupun BMnya.

Perubahan hidup secara drastis mulai gue rasakan sejak gue ngekost di Bandung. Hidup gue yang biasa diwarnai dengan suhu 32 derajat, kini sudah menjadi 20an derajat. Gue yang terbiasa dengan hawa panas, kini merasakan dinginnya hidup di Bandung. Parahnya lagi... Gue JOMBLO.

Gue awalnya senang... Saat gue pertama kali sampai di Bandung, di rumah keluarga Ibu gue di daerah Cileutik. Bibi gue bilang "Aduh, Ajib teh meni kasep pisan." Artinya, Aduh Ajib kok cakep banget. Ajib itu nama panggilan keluarga ke gue. Nama panggilan gue waktu kecil. Gue cukup seneng dibilang cakep. Tapi... Kalau sama keluarga sendiri gue serasa dibodohi... Siapa yang mau ngejek keluarganya sendiri coba! Ya, kan?

Tapi lagi-lagi... Ponakan gue yang di Bandung waktu pertama kali ngeliat gue kayak jijik gitu, gue sempat berpikir "Ya Allah, apa salah gue. Kalau memang muka ini bermasalah, paling nggak buatlah pandangan keluarga terhadap gue menjadi muka yang sangat tampan." Dan itu terkabul, setelah berhari-hari tinggal, ponakan gue jadi agak simpatik sama gue. Tapi, kayaknya itu karna dia kasian sama gue... Nyesek rasanya.

Kisah jones pun dimulai saat gue ngekost di Jl. Mandala No. 48 daerah Kiara Condong.

Gue selama ngekost di Bandung, kemana-mana selalu sendiri. Gue belum dapat temen di Bandung. Pertama kali jadi anak kost, gue wisata kuliner keliling-keliling wilayah kosan gue. Kuliner di Bandung beda banget sama yang ada di Palangka Raya, terutama dalam hal Bakso. Kalau di Palangka, kalo kita mesen bakso, udah ada mi dan udah komplit dengan kuah, dan dimeja udah disediain kecap dan saosnya. Ternyata pas gue makan bakso di Bandung, bakso itu cuman pentol gede sama kuah, gk ada kecap dan saos lagi. Dan parahnya, saat itu gue mesan bakso dan jus jeruk, saat gue bayar... Duit gue lenyap 17 ribu hanya untuk pentol dan kuah... Miris

Setelah tragedi bakso, gue akhirnya coba cari bakso yang waras... Akhirnya dapat juga diseberang jalan area kost gue. Gue kala itu mesen Mi Bakso komplit. Gue kaget!!! Ternyata Mi Bakso itu, satu mangkok yang berisikan mi goreng berkecap dan satu lagi mangkok yang isinya.. tetep pentol dan kuah + sayur doang... Gue serasa dibodohi dan hanya bisa senyum mesem. Besoknya, gue coba pesen Bihun Bakso kuah. Kali ini mendingan, disajikan dalam satu mangkok yang isinya mi bihun, pentol, sayur, kuah, tapi tetep tanpa kecap dan saos yang tersedia di atas meja... Tapi, rasanya tetep enak. Walaupun gue rasa kuliner disini agak aneh (Kayaknya gue yang aneh), tapi enaknya minuman disini nggak dihitung harganya kalo kita mesannya nggak mesan selain yang tersedia dari awal, walaupun minumannya teh hangat yang nggak terlalu manis, menurut gue cukup untuk menghemat duit.

Belum selesai masalah kuliner, untuk makan yang berkualitas macam kentaki pret ciken ataupun pizza hat, gue harus jalan kaki selama kurang lebih 10 menit ke Carrefur terdekat. Pertama kalinya bagi gue, kemana-mana musti jalan kaki. Setelah sampai, gue pun memesan, tapi pertanyaan kasir yang bejibun di toko ayam itu buat gue kesel.

Kasir : "Ada yang bisa saya bantu mas?"
Gue   : "Saya pesan Nasi sama ayam."
Kasir : "Mau sekalian paket super besar mungkin mas?"
Gue   : "Nggak mas."
Kasir : "Mungkin mau paket yang lagi promo?"
Gue   : "Nggak mas, cukup nasi sama ayam."
Kasir : "Ada lagi mas?"
Gue   : "Minumnya Mocha Float sama pesan puding satu."
Kasir : "Mungkin sekalian mas mau pesan paket yang ada CD albumnya."
Gue   : "Nggak!"
Kasir : "Oke, terimakasih mas, silahkan tunggu."

Gue ke Carrefur dengan hanya mengenakan Baju daleman warna item berlengan, celana jins, jaket biru +Headset ditelinga kiri. Sedihnya, gue SENDIRI. Gue agak sedih dengan suasana di tempat itu, di depan gue ada satu cowo yang dikelilingi dua cewek sambil bercanda ria... Dalam hati gue ngomong, "Mas, satu dong buat saya, sendiri nih! Nggak tega apa." Dan diujung kanan depan gue, ada satu cewe yang dikelilingi dua bule. Mungkin dalam hati bule itu kasian sama gue sendiri doang, padahal kapasitas kursi yang gue duduki untuk 4 orang. Ngenes banget.

Keesokan harinya gue wisata kuliner ke tempat penyedia makanan cepat saji lempeng bersaos, gue yang dari kota yang bahkan tempat penyedia makanan cepat saji itu belum ada di Mall kota gue. Alhasil, gue katro melihat semua meja yang sudah ada sendok dan piso + tisu dan piring. Gue kira semua kursi saat itu sudah dipesan, nggak taunya emang dari sononya. Sedikit lagi, gue nggak jadi makan disitu. Akhirnya gue memutuskan untuk duduk menyendiri, dan lagi-lagi gue duduk sendiri di meja yang kapasitasnya untuk 4 orang. Gue pun segera memesan makanan dan memanggil mas-mas penerima pesanan. Setelah memesan, gue menunggu lama banget... Sekitar 30 menitan ada deh gue rasa.

Akhirnya pelayan datang ke meja gue, nggak taunya, "Mas, sebentar lagi pesanannya selesai, mungkin mau makan sup dulu." Dia nawarin gue sup dengan langsung memberikan gue mangkok supnya. Awalnya, gue kira gratis. Gue embat aja supnya. Tibalah makanannya ke meja gue, dan gue embat dalam waktu kira-kira 15 menit. Sedih banget, makanan yang gue tunggu selama 30 menit lebih gue habisin dalam waktu yang setengahnya. Gue pun lekas bayar ke kasir. Dan ternyata sup tadi NGGAK GRATIS! Dan duit gue 50 ribu lenyap... Dan gue jera.

Tiba hasrat gue ingin ke Mall buat beli Novel humor bakal bacaan pas puasa. Karena duit gue didompet sisa 100 ribu, dan gue malas mecahin duitnya. Gue inisiatif untuk mesan taksi. Gue sudah siap, dan gue udah nunggu 1 jam. Ternyata... nggak ada satupun taksi yang respon untuk mau ngejemput gue. Kasian banget.

Keesokan hari, tiba saatnya gue beranikan diri untuk jalan kaki ke Trans Studio Mall. Lelah jalan, akhirnya gue naik angkot ke TSM. Seperti biasa, gue jalan kaki bermodalkan baju I Love Palangka Raya, jaket biru, tas hitam, celana jins, sepatu kets, dan headset putih di telinga kiri. Setibanya disana gue langsung cari toko buku Gramedia, gue pun memborong novel. Tapi karena duit di dompet menipis, gue cuman memborong seadanya dulu, trus keluar ambil duit di ATM. Trus masuk lagi untuk kedua kalinya, dan membeli sisa buku yang mau gue beli. Gue pun membayar ke kasir yang sama lagi. Malu sih rasanya dua kali bolak-balik, ketahuan tipisnya dompet gue. Mungkin dalam hati mbanya bilang "Eh, mas yang tadi.". Untung hal itu nggak bener-bener diungkapkan oleh mba kasir.

Setelah membeli novel, gue melihat jam gue baru menunjukkan pukul 2 siang. Gue bingung. Celingak-celinguk nggak jelas, keliling-keliling nggak jelas. Hingga orang-orang pun melihat gue dengan tatapan jijik. Mungkin gue disangka teroris karena dandanan gue dan headset putih di telinga kiri gue sembari gue terus memegangi headset itu sambil nyanyi nggak jelas. Gue akhirnya memutuskan untuk ke Cinema XXI dilantai paling atas untuk nonton film Transformers 4. Lagi-lagi gue ngenes banget, nonton sendiri di Bioskop. Gue pun bergegas antri. Selagi antri, gue bertatapan muka dengan cowo yang membawa pacarnya sembari senyum mengejek ke arah gue. Mungkin dalam hati dia bilang "Ini nih pacar gue! Woy, mblo! Mana pacar lu!" Dan parahnya, dia jauh lebih ganteng dari gue, dan pacarnya sejenis Jeje JKT48 dengan behel. Gue iri.

Tiba saatnya giliran gue untuk memesan tiket, terjadi percakapan yang membuat hati kembali nyesek :

Kasir : "Ada yang bisa saya bantu mas?"
Gue   : "Tolong satu tiket untuk film transformers 4 3D untuk jam 15:25."
Kasir : "SENDIRI mas?" (Dengan nada sedikit penekanan pada kata sendiri)
Gue   : "Iya mba. Sendiri aja."
Kasir : "Dimana ya mas? Tinggal di pojokan sama ditengah."
Gue   : "Dipojok aja mba kursi J 3"
Kasir : "Oke satu tiket untuk diPOJOKan ya mas. Silahkan dibayar mas, harga tiket 40 Ribu rupiah"
Gue   : "Iya mba." (dalam hati kesel)
Kasir : "Duitnya 100 ribu ya mas, silahkan angsulnya."

Gue bergegas berdesak keluar pintu, karna antriannya sampai keluar pintu. Dan gue otomatis balik lagi. Sambil menunggu pintu theatre dibuka, gue pun memesan minum. Lagi-lagi berurusan sama kasir cewe yang bikin nyesek.

Kasir : "Ada yang bisa dibantu mas?"
Gue   : "Iced Cappuchinonya satu mba."
Kasir : "Iced Cappuchinonya SATU ya. Mau pake jelly mas?" (Kembali menekan pada kata SATU)
Gue   : "Nggak usah." (Mulai kesal)
Kasir : "Oke, Iced Cappuchinonya SATU, harganya 28 ribu mas. Uangnya 50 ribu ya. Silahkan angsulnya mas. Terima Kasih"
Gue   : "Makasih" (tambah dongkol, bergegas pergi)

Sambil nunggu, gue duduk di pojokan sendiri, disebelah gue bapak-bapak dengan anaknya. Kembali ngenes. Dan...
Pintu theatre pun dibuka, gue bergegas kesana.

Penjaga pintu : "Ya, yang ini dua orang."

Saat gue memberi tiket gue...

Penjaga pintu : "Ya, yang ini SENDIRI ya." (Lagi-lagi penekanan pada kata sendiri.)

Setelah gue masuk. Ternyata dideretan kursi J yang gue tempati di pojokan. Hanya disebelah gue yang blum masuk juga. Gue sih berharap bisa dapat scene kaya di film-film. Ketemuan di bioskop, nggak sengaja bersentuhan tangan karna kaget, trus jadian. Didepan dan belakang gue lagi-lagi orang pacaran, what's wrong with me today!!! Dan seketika, harapan asmara gue kandas. Datang sekelompok terong-terongan. Dan benar! Merekalah yang menduduki bangku disebelah gue. Gue yang awalnya dipojokan sendiri, dengan dua pasangan didepan dan belakang yang menghimpit gue dengan mesra. Sementara disebelah gue, kumpulan terong yang membuat gue serasa mendapatkan bisikan dari kedua pasangan tersebut, "HOMO nih orang, kasian banget, udah sendiri, disebelahnya laki-laki semua lagi."

Pulangnya, malam-malam. Gue jalan kira-kira 1 kilo lebih hingga ke simpang empat jalan gatot subroto-kiara condong. Gue jalan dengan kecepatan 10 km/jam. Lagi-lagi gue diliatin orang-orang pas lewat. Mungkin... Sekali lagi gue dikira teroris atau pencopet.

Kira-kira begitulah kisah mengeneskan gue yang paling ngenes. Gue segera memohon aja dah ke Tuhan, "Ya Allah, pilihkan hamba jodoh yang baik. Agar semua kejadian jones ini musnah dari hidup hamba. Aaamiiin!!!"

You Might Also Like

2 komentar:

  1. hahahhaa,, baru 9 bulan udah kena nasib sebegitunya,, gue 2 taon alhamdulillah santai2 aja nih, blm ada situasi yang bikin gue ngenes banget kecuali gue sengaja. (misalnya ke kafe sendirian aja, biar nulis lebih fokus),

    tapi emang situasi dan orang-orang yang terlibat tu pada rese.. Nah elo juga sih men, makanya kalo sendiri, jangan jalan-jalan ketempat yangbiasanya disamperin sejoli.. lo nya iseng sih.. hehehe

    jomblo tu gak haram men, yang haram tu ngerasa kesepian, aduh mak, surem banget.. #seriusan

    Salam kenal ya bro :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakak... Bukannya iseng bro... Maklum perantau yang penasaran... Sekaligus jalan-jalan di Bandung...

      Hho. iya bro... :D

      Oke... Salam balik :)

      Hapus

Yang penting sopan. nggak ada spam dan link aktif.

Salam Penting,
@ajefathoni