Penting Banget

Antara Ada dan Tiada

4/09/2014 Abdul Jabbar Fathoni 0 Comments

Gue mengagumi seorang cewe. Dia orang yang sudah sering gue ceritain dicerita gue sebelumnya. Gue mengagumi dia sudah 5 tahun lebih lamanya, sejak gue menyatakan suka saat kelas 8, hingga saat gue menulis ini pun masih mengagumi dia. Entah kenapa, biar berkali-kali gue mencoba melupakan, mencoba mencari pacar untuk melupakan dia.

Dan ketika gue punya pacar, gue pikir sukses menghilangkan perasaan gue ke dia. Ternyata pas putus, gue terus-terusan balik lagi tertuju padanya. Apakah ini namanya Cinta??? Entahlah...
ADA/TIADA

Tapi, gue sadar. Gue sudah berkali-kali menembaknya, dan selalu ditolak. Dia pasti bilang, "Maaf, kita temenan aja.". Entah kenapa, gue selalu nyaman saat dekat dengannya, ngobrol bareng. Dan selama gue ngomong sama cewe, jujur aja baru sama dia gue berani menatap mata cewe lama banget. Gue sadar, dia yang sering curhat sama gue. Bahkan, lebih bodohnya lagi gue curhat juga sama dia. Tapi, rasa nyaman yang ada di diri gue itu lain.

Gue pernah suatu kali ngomong sama dia, waktu itu gue jomblo dan memang lagi PDKT setelah ditolak yang kesekian kalinya. Saat itu gue ngomong, "Gue suka sama lo, tapi gue nggak minta jawaban ini sekarang juga. Izinkan gue mencintai lo lebih lama lagi.". Itu kata-kata yang paling gue inget. Dan rasa yang ada saat itu, menurut gue sebenarnya nggak berubah sedikit pun.

Tapi, entah kenapa. Gue bingung, jika gue bener-bener menyayanginya kenapa gue nggak pernah bisa leluasa berkata jujur. Sedangkan, saat temen-temen gue yang gue yakin mengaguminya juga, mereka leluasa mengatakan fakta demi fakta, mengenai dia, mengenai apa yang mereka harapkan terhadapnya. Kenapa gue nggak bisa? Gue pengen banget bisa berkata seperti itu. Tapi, gue nggak mau, dia jadi ngejauhin gue. Karna, setiap gue deket sedikit aja ama dia, temen-temen selalu ngebully. Gue minder jadinya, soalnya gue nggak mau dia diejek. Dan sejujurnya, gue nggak mau sakit hati dengan sikap penolakannya saat diejek. Gue putusin, gue harus bertingkah seperti biasa.

Perasaan itu semakin kuat, saat gue tau betapa pedihnya cerita cinta yang dia alami. Betapa dia sebenarnya memperjuangkan apa yang dia sayangi, tapi selalu berakhir dengan apa yang dia tidak ingini. Gue seperti orang yang selalu ingin melihat senyumannya. Dan gue takut, jika memang suatu saat nanti gue sama dia. Gue takut dia sakit hati karna gue, nangis karna gue. Gue sama sekali nggak mau hal itu terjadi, gue sama sekali nggak suka air mata menetes dari matanya. Gue ingin menjaga senyumannya, tawanya, kebahagiaannya, walau hanya dibalik layar...

Entahlah... Gue masih belum bisa memastikan, apakah rasa yang lalu masih bertahan hingga sekarang, ataukah ini semua hanya keegoisan. Yang pasti, untuk memastikan dia tersenyum, gue hanya bisa memandangnya dari jauh, tanpa perduli dia membalas pandangan atau nggak. Gue hanya ingin dia terlihat bahagia, didepan ataupun dibelakang gue.

Entah, ini hanya kagum semata, karna sikap baiknya, senyum manisnya, dan kerendahan hatinya ke setiap orang disekitarnya. Ataukah ini memang rasa suka gue ke dia. Ataukah ini yang namanya cinta sesungguhnya. Gue nggak tau pasti. Yang pasti, ini semua sudah berlangsung 5 tahun lamanya...

Mungkin, suatu saat dia akan membaca tulisan ini. Dan jika memang benar, gue hanya ingin dia tau. Sebenarnya gue sangat menyayanginya dari sejak 5 tahun yang lalu, hanya saja perasaan gue selalu terpendam saat gue mencoba melupakannya dengan yang lain. Dan hanya saja, gue udah nggak sanggup menerima kenyataan, apakah gue pantas untuknya? Pertanyaan ini memang suatu kenyataan yang selalu muncul dalam diri gue.

Gue sadar, gue bukan siapa-siapa, bukan apa-apa dibanding orang yang pernah mengisi hatinya, walaupun sudah melukai hatinya. Dan gue iri dengan mereka, karna mereka pernah mendapatkan rasa kasih sayang dan cinta dari dia.

Gue iri, ketika mereka bisa leluasa mengatakan fakta tentang dia. Sementara gue, yang hanya bisa terdiam dan memendam dalam hati...

Semua perasaan ini menurut gue, antara ada dan tiada. Karna setiap kali rasa itu muncul, gue selalu menolak seolah itu tak ada. Dan setiap kali rasa itu hilang sejenak, tiba-tiba kembali muncul ke dalam benak. Apakah ini cinta sesaat, ataukah cinta sejati? Gue hanya bisa mengingat kata yang diucapkannya, "Jalani hidup seperti air yang mengalir."

Cerita selanjutnya

You Might Also Like

0 comments:

Yang penting sopan. nggak ada spam dan link aktif.

Salam Penting,
@ajefathoni