Penting Banget

3 Hati 2 Kemungkinan 1 Kepastian

2/25/2014 Abdul Jabbar Fathoni 6 Comments

Pasangan, manusia diciptakan berpasang-pasangan. Bahkan bukan manusia saja, semua hal di alam semesta ini pun diciptakan berpasang-pasangan. Ada lovers, haters juga pempers. Ada pancing, kucing juga kancing. Ada chasing, gasing juga pesing. Pokoknya semuanya serba pasangan deh. Tapi mungkin para jones pernah berpikir, kenapa gue nggak ada yang mau? Apa gue kurang bau? Nggak bro! lo sudah cukup bau, bau ngenes!

Jumlah laki-laki di dunia ini 1:3 perempuan yang ada di dunia, seharusnya 1 laki-laki punya 3 perempuan? Iya, itu bagi yang IQnya jongkok! Ya gk gitu juga kali. Kalau lo pada berpikiran gitu semua, jadinya lo gk berusaha dapetin cewe ya gk bakal dapat cewe, wong kiai-kiai aja banyak yang meninggal tanpa pasangan karna lebih mendahulukan menuntut ilmu. Jadi bagi semua jones didunia, tetap semangat, berusaha dan berdo’a.
321 ini pasti

Ngomongin soal berpasangan, sudah hampir 5 bulan sudah lamanya gue ngejomblo saat nulis ini cerita, sebelumnya ya memang gue punya pacar dan jangan pernah ada yang berpikir gue HOMO! Apalagi ngenes! Gue normal bro, pacaran sama perempuan! Kucing tetangga sih.*Buat mantan-mantan gue jangan tersinggung, gue masih ingat kok sama kalian semua.

Setelah sekian lamanya gue ngejomblo, sangat banyak hal yang telah gue lewati, akhir-akhir ini gue lagi deket sama dua cewe. *Sumpah, bukannya gue bermaksud playboy. Yang satunya adalah adik kelas gue yang gue ceritain di cerita sebelumnya yang dia juga lagi deket sama temen gue. Yang satunya lagi adalah adik kelas gue yang sempet deket waktu perjalanan gue studi tur ke MAN 3 Malang bersama keluarga besar sekolah gue.

Karna gue sebelumnya udah cerita sama lo pada tentang adik kelas yang juga pernah deket sama temen gue. Sekarang, gue bakal ceritain yang satunya, gimana gue bisa deket lagi sama yang satunya. Jadi awal cerita gue ketemu dia sewaktu breafing sebelum berangkat tur, gue sekilas gk sengaja ngeliat dia, disitulah kami gk sengaja bertatapan mata pertama kali. Sehabis breafing, gue nanya sama guru pembimbing tur kami yang ternyata dia bersama temennya yang lain juga ada urusan dengan guru tersebut, gue ngomong sama guru pembimbing dan si adik kelas yang gue bicarain tdi ternyata diam-diam merhatiin gue, entah bener apa nggak yang pasti gue merasa diperhatikan diam-diam dan karna gue belum kenal sama dia jadinya gue cuek bebek aja.

Ternyata saat tur dimulai dan kami naik bis yang sama, bis rombongan para guru. Dia duduk tepat dibelakang gue. Pertama kali kami berbincang saat kami ziarah di makam sunan bonang, dia merasa gk enak badan jadi gk ikut ziarah dengan kami, dan gue sendiri lambat turun karna ngecharge hp gue di bis, gue ngomong ama dia “De, titip barang kk ya.” “Ya ka.” Saat itu gue sebenarnya udah mulai tertarik sama dia, tapi gue sadar gue lagi deket sama adik kelas lain dan lagipula gue belum terlalu kenal sama yang satu ini.
Sesampai di hotel tempat kami menginap di kota T, sambil berdiri menunggu mengambil koper gue ternyata dia juga menunggu koper tepat disebelah gue, entah dia sengaja atau hanya kebetulan yang pasti gue masih cuek. Keesokan harinya saat kami check out dari hotel dan melanjutkan perjalanan kami ke kota TB, gue mendengar desas-desus dari gerombolan adik kelas gue yang laki-laki dan salah satu dari mereka menurut gue sedang berusaha deketin orang yang gue ceritain tadi. Sebentar! Sebelum gue ceritain lanjut, kalian capek gk sih ngebacanya? Gue capek nyeritainnya, yaudah gue sebut namanya, dia Santi*Nama samaran. Nah salah satu dari 3 cowo adik kelas gue sepertinya juga suka sama si Santi dan kayaknya memang sudah deket, tambah cuek lah gue.

Saat rekreasi ke Jatim Park 2, berbagai macam fauna kami saksikan. Dan tibalah pada wahana hiburan disana. Disini pertama kalinya gue naik semacam roller coaster mini, namanya shark coaster. Walaupun rute pendek, tapi cukup menegangkan dan gue udah gk bisa bayangin gimana roller coaster yang aslinya! Setelah itu gue dan temen gue juga rombongan Santi dan adik kelas cowo lainnya mencoba wahana ghost house disana, meski rombongan gue dan Santi berpisah. Tapi rombongan Santi berhasil mengejar kami, karna rombongan kami terlalu lambat bergerak. Jujur gue gugup bukan karna boneka hantu dan suara dari hantunya, tapi dari teriakan temen gue dan tarikan badan dari temen gue sendiri. Setelah hampir menyelesaikan wahana tersebut, dengan santainya gue berjalan karna bosan dengan boneka hantu yang udah terlalu mainstream sebelumnya*Padahal gugup juga. Dan meliat rombongan kebelakang, entah halusinasi atau apa gue ngeliat si Santi bergandengan dengan si Kiki*Nama samaran, yaitu orang yang desas-desusnya juga suka sama Santi yang gue ceritain tadi, dan sumpah gue shock, kecewa, sedih. Membuat gue menghapus semua pemikiran gue sebelumnya dan membuat gue tambah cuek.

Setelah wahana ghost house, kami menaiki wahana animal coaster, gue udah turun duluan dari wahana sebelum dia naik. Dan tibalah saat dia naik, gue tertawa melihat ketakutan mereka, bukan ketawa sih tapi lebih tepatnya senyum mesem. Entah harapan gue aja atau apa, tapi yang pasti gue melihat dia menatap gue dari atas sambil menahan malu karna gue ngeliat dia ketakutan. Haripun hujan saat mereka turun dari wahana dan kami pun bergegas mencari tempat berteduh. Saat itupun kami terpisah antara laki-laki dan perempuan.
Keesokan harinya, sebelum kembali ke Bandara Djuanda. Di hari terakhir ini, kami mengunjungi TKP lumpur lapindo di kota Sidoarjo. Disana gue makin merasa dia memang tertarik dengan gue. Kami banyak berfoto di TKP, dan dia selalu berusaha berfoto disebelah gue, sama dengan yang sebelum-sebelumnya di tempat ziarah yang lain. Dan pada akhirnya dia minta untuk berfoto berdua dengan gue, gue turuti keinginannya. Dan gue masih cuek bebek.

Tibalah kami di Bandar udara Internasional Djuanda, tidak ada yang spesial disini. Hanya saja dia sempat ngobrol ke gue, tapi karna saking cueknya gue, gue sampai lupa apa yang diomongin. Tiba saatnya kami naik dan masuk kedalam pesawat penerbangan kami kembali ke Palangka Raya. Sebelumnya, gue pernah berharap  “Ya Allah, jika memang dia jodoh hamba, dudukkan lah hamba berdua dengannya di pesawat.”
Di pesawat, gue mencari dimana gue duduk sesuai dengan tiket yang gue dapat, “29 F.” Tapi gue liat kesana kemari, 29F gk ada. Gue bingung, galau dan bertanya ke pramugari pesawat L tersebut. “Wah, tunggu sebentar ya de, soalnya ini susunan pesawatnya beda.” Gue bertanya-tanya dihati, “Beda gimana sih! Waduh gimana nih, jangan-jangan gue disuruh turun dari pesawat dan menunggu pesawat yang selanjutnya terbang ke Palangka Raya.” Tapi syukurlah, ternyata pemikiran bodoh gue sia-sia dan gue masih berdiri menunggu pramugarinya memberikan tempat duduk untuk gue. Dan gue meliat gue ada temen yang sama-sama gk dapat tempat duduk, tapi nasibnya berbeda karna dia gk dapet tempat duduk gara-gara tempat duduknya udah didudukin sama adik kelas gue yang merupakan kaka kelas dia yg gk liat-liat tempat duduk dan seharusnya dia yang bernasib sama dengan gue.

Sambil menunggu pramugarinya menginstruksikan gue duduk dimana, gue pun disuruh duduk oleh Kepala kementrian agama yang juga satu rombongan dengan kami untuk duduk disebelahnya. Lalu gue duduk, sama halnya dengan adik kelas gue yang sama nasibnya dengan gue karna ada satu kursi yang kosong dibelakang kami yang memang itu seharusnya menjadi tempat duduk kami. Tapi, pramugari mengatur ulang tempat duduk kami, dan kami ditukar tempat duduknya dengan guru kami karna tempat yang kami duduki harus diduduki oleh yang usianya 18+. Dan…

Gue kaget! Ternyata, gue duduk di sebelah Santi. Entah ini pertanda apa, tapi setiap gue berharap dengan harapan yang sama, harapan gue blum pernah terkabul kayagini. Kami berdua pun mengobrol dengan akrabnya, dan membahas foto-foto kami di TKP lumpur lapindo, yang memang gue yang paling tinggi diantara yg lain. Banyak hal yang kami berdua bahas, hingga tak terasa sudah landing. Tangan gue berpegang di sandaran kursi, dan saat landing yang mengejutkan. Dia terkejut, dan reflek memegang sandaran kursi yang otomatis dia memegang tangan gue. Gue pura-pura biasa yang padahal gue juga seneng. Selesailah perjalanan kami, kami berdua pun berdiri sambil menunggu yang lain turun, karna barang gue masih di kabin depan di tempat yang seharusnya gue duduki tadi. Gue pun berpegangan di kursi didepan gue, Santi pun juga begitu, dan entah sengaja atau tidak tangan kami sedikit bersentuhan. Dan saat pengambilan barang, kami pun bertukaran pin BM.

Di sekolah, kami saling BMan. Dan memang niat gue cuman mau minta foto yg ada di kamera digitalnya. Namun, lama kelamaan dia menganggap lain. Dia rupanya berusaha mengungkapkan perasaannya ke gue. Gue tau itu, tapi karna gue juga sedang pdkt dengan adik kelas yg lain, sebut saja mai*Nama samaran. Jadi gue masih bertingkah layaknya kawan biasa. Tapi semakin lama, gue mulai yakin kalau Santi memang mengharapkan gue. Gue pun semakin bingung, apa yang harus gue lakukan, memilih Santi atau Mai untuk gue lanjutkan ketahap pdkt selanjutnya. Gue pun meminta saran dan curhat ke temen gue Rama, “Ram, menurut lo gimana? Gue lagi deket sama dua cewe, yang satunya gue yang suka sama dia tapi gue gk tau dia juga suka atau gk dan satunya lagi kayanya dia yang suka sama gue.” “Lo suka juga gk sama dia?” “Iya suka juga sih.” “Kalo gue sih mending milih yang pasti-pasti aja dul.”, gue pun berpikir kembali, apa yang harus gue lakuin. Dan lagi Santi sudah mengajak gue karokean. Maka gue putuskan untuk melihat gimana selanjutnya sebaiknya gue dengan Santi. Dan dengan Mai pun gue mulai biasa, sebetulnya gue udah gk ngerayu Mai lagi sejak gue tau dia pernah deket sama temen gue dan masih deket dengan mantannya.

Hari Minggu pun tiba, hari yang gue dan Santi rencanakan untuk karokean. Sambil kami berdua mengerjakan pekerjaan rumah kami masing-masing, yaitu membantu nyuci dan ngejemur baju. Ternyata dia sakit, akhirnya gue suruh lah dia untuk istirahat dan batal lah rencana kami berdua siang ini. Dan menurut gue Mai mulai merespon gue, tapi gue masih ragu harus memilih siapa. Lagipula gue udah memutuskan untuk hanya mendekati orang yang gue bener-bener suka, tapi bukan berarti pacaran, karna gue belum mau pacaran dulu. Gue masih berpegang dengan prinsip gue untuk nyelesaikan studi SMA dulu, dan jika kiranya nanti memang cocok baru pacaran. Dan jujur sampai saat ini, gue masih bingung memutuskan siapa yang sebenarnya gue cintai dan harapkan. Sama halnya dengan kebingungan gue untuk memilih dimana universitas yang akan gue pijak nantinya. Yang pasti semua ini pasti ada waktu yang tepat untuk menetapkannya…

You Might Also Like

6 komentar:

  1. wahhh cerita yg ini seru kaa (y)

    BalasHapus
  2. Jangan terlalu serius sama studi di masa SMA, nikmati aja 'kehidupan cinta' disana Je :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hha, iya mas. Tapi udah terlanjur punya prinsip gini.

      Hapus
  3. ya kalau posisinya seperti itu bingumg juga,tapi coba deh ikuti apa kata hatimu :)

    BalasHapus

Yang penting sopan. nggak ada spam dan link aktif.

Salam Penting,
@ajefathoni