Cerpen Penting

Cerpen - Ketika Detik-Detik Terakhir.

1/19/2014 Abdul Jabbar Fathoni 0 Comments

SMA 96, merupakan SMA yang terpencil di Kota Palangka Raya tepatnya di Desa Bahagia yang bahkan terancam ditutup jika tidak memenuhi standar minimal peserta didik, yaitu 20 anak. Suatu ketika tibalah saatnya penerimaan peserta didik baru, hampir semua sekolah di Palangka Raya dipenuhi oleh deretan peserta didik baru yang berebut mendaftarkan diri di sekolah-sekolah ternama yang ada di Palangka Raya terkecuali SMA 96, belum ada satupun anak yang terlihat sejauh mata memandang. Bu Cika pun bergumam, “Ya Allah, bagaimana nasib sekolah ini, sampai jam segini saja belum ada satupun anak yang terlihat ingin mendaftarkan dirinya di sekolah.”, Pa Sugi Kepala sekolah SMA 96 pun menanggapi apa yang Bu Cika katakan, “Ya sabar lah bu, kita berdo’a saja semoga ada anak yang mau mendaftarkan diri di sekolah ini.”. Pa Yono berteriak sambil berlari mendatangi SMA 96 dan berkata, “Pa Sugi, Bu Cika, akhirnya ada satu anak yang mau mendaftarkan dirinya di SMA 96!!!”. Pa Sugi dan Bu Cika pun sangat senang mendengarnya, mata Bu Cika mulai berkaca-kaca karena mendengar berita bahagia tersebut.
Terinspirasi dari Laskar Pelangi

Tiba lah siswa tersebut di SMA 96 seorang diri. Bu Cika pun bertanya, “Alhamdulillah, terima kasih sekali nak kamu sudah ingin menuntut ilmu di sekolah ini. Ngomong-ngomong siapa ya namanya?”, siswa tersebut pun menjawab, “Nama saya Farhan bu.”, Bu Cika pun menjawab, “Oh, nak Farhan ya. Oke, nak Farhan sudah pasti diterima di SMA ini, tapi kita tunggu dulu sampai jam 10 ya, soalnya besok SMA 96 harus menepati target sebanyak 20 anak.”, Farhan menjawab, “Oke deh bu, saya tunggu deh. Sebelumnya makasih banyak ya Bu, Pa.”
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam pun sudah berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi tepat. Tibalah saatnya penentuan keberadaan SMA 96, akan tetapi semenjak tadi blum ada satu pun yang datang, Pa Sugi, Bu Cika, Pa Yono dan Farhan pun kecewa. Farhan berkata, “Hmm, gimana nih bu? Kok blum ada yang datang ya, trus jadinya gimana ya?”, Pa Yono pun menjawab, “Gimana ya nak, masalahnya kalau tidak mencapai target 20 anak, SMA 96 akan ditutup.”, Pa Sugi berkata, “Gini aja, nak Farhan untuk sementara kami terima di SMA 96, akan tetapi kalau sampai jam 10 pagi besok belum mencapai target 20 anak, maka kami dari pihak sekolah mohon maaf, karena kami tidak bisa melakukan apa-apa lagi dan terpaksa nak Farhan harus mencari sekolah lain.” Farhan menjawab, “Ya nggak bisa gitu dong Pa, Bu!!! SMA 96 ini kan satu-satunya SMA yang ada di desa ini, bahkan di kecamatan ini yang biayanya masih bisa dijangkau oleh orang tua saya!!! Kalau tidak sekolah disini, saya harus sekolah dimana lagi Pa, Bu!!! Saya mohon bantuan Ibu dan Bapak!!”, Bu Cika menjawab,“Nak Farhan, kami pihak sekolah sudah tidak bisa bertindak apa-apa lagi jika masih seperti ini, karena dari tahun lalu kami sudah diperingatkan, dan kali ini adalah kesempatan terakhir kami. Kami pun prihatin, karena kesadaran penduduk sini akan pendidikan masih sangat kurang, mereka berpikir lebih baik bekerja giat dibanding membuang-buang uangnya hanya untuk menyekolahkan di SMA 96 ini. Jika memang tidak bisa mencapai target 20 anak, maka sekolah ini akan ditutup secara paksa oleh pemerintah kota.”, Farhan dengan semangat menjawab, “Oke deh bu! Kalau gitu, demi SMA 96 saya akan mencarikan 19 anak lagi!!! Saya pergi dulu ya Pa, Bu, saya akan mencarinya mulai sekarang!”, setelah berpamitan dengan semangatnya Farhan keluar ruangan kelas dan bergegas untuk mencari anak yang masih belum mendaftarkan diri di SMA lain.
Farhan berjuang dengan kerasnya untuk mengajak anak yang putus sekolah atau yang belum mendaftar ke sekolah lain untuk mendaftarkan diri ke SMA 96, pada awalnya Farhan hanya mendapat cacian, ejekan, ditertawakan, dan hasil yang didapat nihil. Akan tetapi karena kegigihan Farhan dan demi semangat Farhan untuk menuntut ilmu, dia terus berusaha dan mencampakkan hambatan yang menghalanginya. Hanya terkumpul 5 anak pada awalnya, akan tetapi seiring berjalannya waktu jumlahnya terus bertambah.
Sementara hari di kalender sudah menunjukkan hari yang ditentukan, hanya tinggal menunggu waktu saja keputusan yang akan ditetapkan dan merupakan penentuan masa depan SMA 96. Jam sudah menunjukkan pukul 9.30 pagi, pejabat utusan pemerintah kota pun datang ke SMA 96. “Bagaimana Pa Sugi? Sudah terkumpul 20 anak, belum?”, Pa Sugi dengan ragu menjawab, “Hmm, se..se..sebentar lagi Pak, tunggu dulu ya, kan belum jam 10.”, dalam hati pun beliau bergumam dimana sebenarnya Farhan dan anak-anak lain yang dijanjikannya. Pejabat utusan pemerintah kota itu pun mulai ragu dengan SMA 96 dan berkata, “Tolong ya pak! Saya masih punya jadwal lain setelah ini, masih banyak yang lebih penting dari ini!! Lagipula kayaknya nggak mungkin deh SMA 96 bisa dapat 20 anak dalam waktu yang singkat!!!”, Pa Yono menjawab, “Ya nggak bisa gitu dong pak, kan kesepakatannya jam 10 pagi tepat, ini kan baru jam 9.35. Konsisten dong pak!!!”, Bu Cika pun mulai mendinginkan suasana yang mulai memanas, “Sudah-sudah pak, nggak perlu bercekcok mulut, kita lihat aja nanti ya.”. Jam pun sudah menunjukkan pukul 9.50, lalu sang pejabat makin ragu dan berkata “Sudahlah, sampai jam segini belum ada satupun anak yang datang, saya ragu dengan SMA ini.” Pa Sugi menjawab, “Tunggu dulu pa, tunggu 10 menit lagi saja ya.”. 10 Menit hampir berakhir, pejabat pun berkata, “Sudah diputuskan!!! Dengan begini SMA 96 akan ditu..”, Farhan berlari dan bergegas berkata, “Tunggu dulu pak!!! Jangan menutup SMA 96 ini!!!”. Pejabat, Pa Sugi, Bu Cika dan Pa Yono terkejut melihat 19 anak lainnya ikut berlari dibelakang Farhan, dan ternyata Farhan datang terlambat karena dari pagi dia masih mengumpulkan anak-anak dan masih ingin mencapai target 20 anak, sehingga ketika detik-detik terakhir pun Farhan berhasil mengumpulkannya dan membawa mereka ke SMA 96. Pejabat itu pun akhirnya pergi dan memutuskan bahwa SMA 96 akan tetap dibuka, dan pada akhirnya Farhan dan kawan-kawannya bisa menuntut ilmu hingga kelak bisa menjadi orang yang berguna bagi Bangsa dan Negara. 



You Might Also Like

0 comments:

Yang penting sopan. nggak ada spam dan link aktif.

Salam Penting,
@ajefathoni