Penting Banget

Awal dari Segalanya

1/22/2014 Abdul Jabbar Fathoni 0 Comments

Semua berawal dari Negara Api yang menyerang kampung halaman gue, dari gubuk yang hangus muncullah sebuah bayi yang kecil mungil dan ganteng. Begitulah acara TV yang benar-benar ingin gue tonton, sebuah awal yang menarik. Yang pasti bayi tadi bukan gue, karna gue udah bilang itu acara TV yang benar-benar ingin gue TONTON. Gue hanyalah sebuah seorang manusia biasa yang terlahir dari keluarga sederhana. Yang mana kekonyolan gue berdasarkan pengalaman-pengalaman bodoh nan hina yang gue alami sendiri. Semua pengalaman tersebut menjadi kenangan. Kenangan yang sangat melekat dihati gue.
awal dari...

Setiap gue menentukan kemana gue akan melangkah, gue selalu punya kebiasaan untuk menentukan semuanya dari awal tahun pelajaran. Saat gue kelas 5 SD, tahun pelajaran awal, gue udah menetapkan kemana gue akan melangkah. Saat itu gue memutuskan untuk mengikuti jejak langkah kakak gue Zaky, ke MTsN-1 Model Palangka Raya, dan saat gue berhasil masuk ke sekolah tersebut, saat kelas 7 awal tahun pelajaran gue sudah menetapkan gue akan kembali mengikuti jejak langkah kakak gue Zaky yaitu ke MAN Model Palangka Raya. Tapi... saat gue beranjak ke kelas 9, kegalauan mulai melanda, gue disuruh Ayah gue ke SMAN-2. Gue berpikir dua kali, pertama, jika gue masuk ke MAN Model, tujuan utama gue untuk masuk ke gudep 49-50 PH akan terpenuhi, dan pastinya pelajaran agama gue akan terus terasah. Kedua, jika gue masuk ke SMAN-2, gue malah berpikir bejat, pasti ceweknya cantik-cantiklah, apalah, dan memang sekolah tersebut bagus dalam akademiknya, dan jika aku masuk kesana, otomatis gue tetap masuk ke Pramuka, gudep 07-08 K.S. Tubun. Pada saat itu gue memutuskan untuk masuk ke SMAN-2, atas dasar perintah ortu.

            Tibalah saat-saat gue memutuskan kemana kan gue lanjutkan sekolah gue ini, yaitu saat kelulusan. Selebaran brosur pun gue dapat, ternyata brosur dari MAN Model yang menyatakan membuka pendaftaran jalur khusus. Gue tunjukin brosur itu ke Ayah gue, gue kira brosur itu akan dibakar dan Beliau mengatakan “Apa ini!!!” Gue jawab “Itu brosur yah”, brosur dibakar dan “Kamu tetap harus masuk SMAN-2! Titik.”, lalu gue pup dicelana. Tapi... ternyata Ayah gue berkata “Yaudah, coba aja dulu.”. Akhirnya gue mencoba bersekolah di MAN Model Palangka Raya, sekolah yang harus gue tempuh dari rumah sekitar 9 Km. Gue berangkat rame-rame dengan temen gue, kami antri untuk daftar jalur khusus tersebut, cukup mudah, kami hanya tinggal mengisi biodata pendaftaran website lewat komputer, lalu menyerahkan fotocopyan raport kami selama 5 semester terakhir, artinya raport gue dari kelas 7 semester 1 hingga kelas 9 semester 1.
            Tibalah saat pengumuman, dan... gue LOLOS, masuk 3 besar. Tapi gue agak sedih juga, karna populasi laki-laki yang lolos jalur khusus hanya ada kurang dari setengah populasi perempuan. Dan temen gue yang saat itu ngumpul bareng gue hanya beberapa yang lolos, gue kasihan juga sama mereka. Tapi mau gimana lagi, gue bukanlah orang yang berhak untuk mengatur semua itu. Gue langsung ke rumah, tentunya pakai angkot. Yaiyalah, kan enggak mungkin gue jalan kaki 9 Km, gemporlah gue jika hal itu sampai terjadi. Setiba dirumah, dengan gembiranya gue memberitaukan kabar gembira ini ke ortu gue. “Ibu, Ayah, anakmu lolos dan masuk 3 besar.”. Tiba-tiba muncul pertanyaan yang bikin shock. “Kamu udah yakin mau masuk MAN?”. “Iya yah, masuk MAN aja deh, soalnya pendaftaran di SMAN-2 enggak jelas.”. Besoknya, gue pun kembali ke MAN bersama Ayah gue, gue daftar ulang, yang otomatis berarti gue sudah yakin dengan pilihan gue. Tapi... setelah masuk MAN dan kami yang jalur khusus melaksanakan matrikulasi, gue bingung. Mana Mufia? Mufia saat itu adalah pacar gue. Malamnya, gue pun sms dia. “Kamu enggak masuk MAN?”. “Enggak yank, aku masuk SMAN-2.” Whaaaaattt!!!! Gue shock! Gue langsung bales smsnya “Kenapa enggak bilang kalau mau masuk SMAN-2, kalau bilang pasti aku juga masuk ke SMAN-2.” Yaiyalah, gue yakin gue pasti lolos kalau daftar di SMAN-2, secara pacar gue yang nilainya dibawah gue aja masuk, masa gue enggak? Bukannya sombong ya, ini memang kenyataan. Gue 5 besar waktu kelulusan, dan pacar gue urutan ke-7nya. Gue galau setengah hidup. Tapi mau gimana lagi, kami memang punya jalan hidup yang berbeda. Seketika perlahan perasaan gue mulai hilang ke dia. Gue menjalani sekolah di MAN Model penuh dengan kenangan, dan dia pun menjalani sekolah di SMAN-2 penuh dengan kenangan. Dan memang kami bukan jodohnya, karna tak lama setelah gue masuk MAN dan menjalani kehidupan sekolah di MAN, gue putus dengan dia “De, kk rasa kk udah enggak ada rasa sama kamu, kita kan udah lama enggak kontak-kontakan.”  (dia ade angkat gue sebelum jadi pacar), dia ternyata mengiyakan dan katanya juga merasakan hal yang sama. Putuslah gue dengannya.

            Gue lupa ceritain pengalaman MOS gue. Di MAN Model MOS disebut MOPDB (Masa Orientasi Peserta Didik Baru). Sama aja sih artinya. MOS adalah pengalaman tak terlupakan bagi gue. Memakai Topi purun dengan 4 balon warna-warni diatasnya, memakai tas bakul bertuliskan WOW membentuk MOM, dengan isi parang, sapu lidi yang jumlah lidinya sebanyak 173,5 dengan ukuran 80cm. Pengalaman menegangkan sekaligus menyenangkan juga mengharukan. Menegangkan karna kami hanya diperbolehkan minum beberapa kali sehari, dan itupun satu botol harus dibagikan untuk 10 orang dalam 1 kelompok disertakan dengan omelan kakak kelas yang bikin tegang, hati gue lembut, enggak bisa kena bentak, tapi gue enggak boleh gentar hanya gitu doang. Dan lagi jika balon kami meletus, ocehan kakak kelas kembali menyerang kami. Dan lagi kami disuruh datang pagi-pagi buta, karna jam 5 pagi acara sudah dimulai, kebayang enggak dari jam 5 pagi hingga jam 5 sore, kami dihantui perasaan takut. Menyenangkan karna kakak divisi acara tidak ikut membuat kami tegang, bahkan agak memanjakan. Di hari terakhir kami disuruh menulis Surat cinta dan surat benci, surat benci udah dibooking oleh kakak bindam gue, biar dapat coklat katanya. Surat cinta yang awalnya gue mau tulis buat kakak divisi lapangan, tapi enggak jadi, karna gue bingung, kelebihan apa yang harus gue bicarakan, karna kakak-kakak yang divisi lapangan selalu marah dan sebagainya, apa yang harus gue rayu? Akhirnya gue enggak jadi nulis buat kak Vio. Tapi gue tulis surat cinta untuk kakak divisi acara yang paling baik, yaitu Kak Ichi, kakak yang tidak pernah marah dengan kami, bahkan parasnya pun cantik. Cowok mana yang enggak bakal kesemsem sama kakak kelas yang seperti itu. Tapi karna kakak tersebut sudah memiliki pacar, gue pun berkata bahwa surat cinta tersebut hanya untuk tugas, agar tak menyinggung perasaan pacarnya.
            Tiba saat hari terakhir MOS, gue disuruh berdiri di depan, gue dituduh lalai karna lupa bawa bekal dan sandal gue cuman ada sebelah, jadi saat berdiri gue cuman memakai sandal sebelahnya saja, dan lagi gue dituduh menulis panitia enggak becus, dan anehnya gue liat tulisan itu tulisan tegak bersambung, yang jelas-jelas dari SD gue enggak pernah bisa nulis tegak bersambung, dan lagi tulisannya bagus banget. Gue bantah “Kak, itu bukan tulisan saya, kakak silahkan liat tulisan saya yang sebelumnya, beda banget kak!!!”. “Kalau masalah tulisan dalam 5 menit kakak juga bisa ngerubahnya de! Udah deh enggak usah ngebantah.” Selama beberapa menit kami yang didepan yang berjumlah 10 orang ini dimaki. Ujung-ujungnya kami disuruh tutup mata, dan ngebayangin kalau seandainya hari itu adalah hari terakhir gue bisa ngeliat Ayah Ibu gue, kalau ketika kita sampai ke rumah setelah pulang dari MOS, tiba-tiba sekelompok tetangga sudah membacakan ayat Yaasin di rumah kita. Dan diakhirnya kami ber-10 diberi selamat karna udah menjadi peserta terbaik MOS, gue pun shock dan nangis. Gimana enggak, gue enggak pernah tahan jika renungan tersebut menyangkut ortu gue, siapa sih yang enggak tahan. Mungkin itu pengalaman menyedihkan gue, karna gue yang laki-laki ini berhasil nangis karna renungan yang diberikan seorang kakak kelas cewe. Gue pun menjadi bahan tertawaan kakak kelas, tapi enggak apa, bagi gue yang terjadi terjadilah. Karna memang setiap orang itu berbeda-beda. Tapi gue tetap bangga, karna itulah satu-satunya yang bisa gue banggakan saat MOS. Gue sebagai Waketos dan Juga Ketos yang saat MOS, pernah NANGIS. Betul-betul menyedihkan.
*****

You Might Also Like

0 comments:

Yang penting sopan. nggak ada spam dan link aktif.

Salam Penting,
@ajefathoni